Tags

, , ,

Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak. (Amsal 25:11, ITB)

Suatu pengakuan jujur dari Faiza, seorang Arab Israel, tentang Israel secara keseluruhan kepada Gheula C.Nemni. Artikel ini sungguh menarik untuk dibaca, khususnya di tengah-tengah konfik antara Israel dengan sekelompok orang Arab, yang dikenal dunia sebagai ”bangsa Palestina.” Pengakuan dokter Arab ini memberikan angin segar bagi proses kesembuhan luka batin bagi kedua pihak. Kesatuan yang kuat dan sejati lahir dari hati yang tulus, dan bukan dari keahlian berpolitik. Semoga artikel ini bisa membawa inpirasi dan munculnya percikan api perdamaian dan kesatuan bukan hanya antara Israel dengan kelompok orangArab Israel, tetapi juga antara Israel dengan bangsa Arab secara keseluruhan, bahkan antara Israel dengan bangsa Indonesia. Artikel ini saya terjemahkan sebagaimana sumber Inggrisnya. Kalimat dalam tanda kurung dari saya. Selamat membaca, Joseph Hendry.

Gheula Canarutto Nemni; profesor dan novelist Israel

Gheula C. Nemni

Namanya adalah Faiza. Dia bekerja untuk sebuah Rumah Sakit swasta di Israel.
Kami bertemu seminggu lalu, sementara saya sedang membantu seorang famili saya di sana.
Faiza tinggal di Shuafat, sebuah lingkungan Arab di Yerusalem dimana sering ada guncangan-guncangan (konflik antara Israel dan Arab). Ia berasal dari sebuah keluarga sebelas anak, kebanyakan dari mereka lulus dari universitas-universitas Israel. Antara satu pasien ke pasien lainnya kami membagi visi tentang kehidupan.


”Saya senang dengan kehidupanku. Saya senang tinggal di Israel. Saya berterima kasih kepada Allah setiap hari atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk bertumbuh di sini,” ia berkata. “Saya tahu jika tanpa negara ini, saya tentunya tidak akan pernah ada sebagaimana saya sekarang ada.”
“Di sini anda dapat memilih,” ia berkata sementara ia menghabiskan kopinya selama waktu istirahanya. Ia memalingkan kepala ke arah dokter-dokter dan perawat-perawat Arab. “Israel memberikan anda kesempatan untuk mengekpresikan potensial kemanusianmu,” ia menambahkan.


Saya mendapatkan bahwa di seluruh universitas Israel dan lapangan-lapangan pekerjaan ada garansi tempat-tempat bagi orang-orang Arab warga Israel. Ada sesuatu yang khusus dalam mata (dokter) wanita ini. Anda dapat rasakan kasihnya untuk kemanusian.
“Saya belajar itu di sini, di Israel. Bahwa setiap manusia memiliki martabatnya sendiri disamping iman dan prinsip kehidupannya,” ia menambahkan.
”Sudahkah anda melihat bagaimana para tentara Israel menolongi orang-orang Syria? Sudahkan anda melihat bagaimana mereka menempatkan hidup mereka sendiri dalam bahaya menyeberangi perbatasan (negara) untuk mengambil orang-orang Syria yang terluka (akibat perang sipil) untuk membawa mereka ke rumah-rumah sakit Israel?


Ketika saya kembali ke rumah, saat saya bertemu dengan keluargaku, saya harus tutup mulut. Ibuku berkata kepadaku saya membela Israel terlalu banyak di depan saudara-saudaraku dan keluarga-keluargaku. Saya tidak ingin menaruh anak-anakku dalam situasi yang berbahaya.” ”Tetapi….” (ia tidak meneruskan)
“Sukakah anda mendengar suatu cerita yang lucu?” Ia bertanya kepadaku sementara melempar gelas kertas (bekas kopinya) dan kembali ke unit intensive.
Ia biasa berpergian ketika ia masih muda, Ia ada satu tahun pertukaran universitas dan menemukan dirinya sendiri di London.
”Saya tentunya dapat pergi tinggal di sebuah lingkungan Arab. Tetapi saya memilih untuk menyewa apartemen kecil di lingkungan Yahudi. Di sana, diantara kippot (topi-topi khas pria Yahudi; kippah, tunggal) dan waktu tenang saat hari-hari Sabat, saya merasa terlindung. Saya tahu bahwa jika seseorang mencoba melukaiku, setiap Yahudi akanlah berdiri untuk membelaku.”
”Saya tidaklah akan membesarkan anak-anakku di tempat yang berbeda. Di sini, saya dapat mengajar mereka untuk percaya pada diri mereka sendiri dan impian-impian mereka. Putraku sebelas tahun dan ia bercita-cita menjadi seorang insinyur. Putriku berusia enam belas dan ia ingin menjadi seorang ahli hukum.”
”Dan janganlah berpikir saya telah berhenti bermimpi. Saya menceraikan suamiku dan sekarang saya sedang mengambil PhDku.”
Saya kembali ke kursiku dan gambar-gambar dari apa media mencoba untuk mentransmisikan ke seluruh dunia tentang Israel memukul saya dengan sengit. BDS (boycott, divestment and sanctions; gerakan anti-Israel) di London, boikot-boikot pada kampus-kampus di universitas.

Banyak kebohongan telah dikabarkan tentang orang-orang Yahudi sepanjang sejarah. Lebel-lebel darah, meracuni sumur-sumur. Lupakan tentang orang-orang Yahudi tidak diinjikan untuk makan bahkan sebuah telur jika ada setitik kecil darah di dalamnya. Abaikan fakta malaikat-malaikat telah berhenti bernyanyi memuji Elohim di depan Laut Merah, karena para orang Mesir, para Nazi saat itu, telah meninggal.
Meskipun semua kebohongan tersebut, kami tidak pernah berhenti berjuang untuk kehidupan yang lebih baik, untuk seluruh dunia. Anggota BDS dan anti-Semitik dari penduduk planet kita haruslah ada dipaksa untuk hidup selama sebulan penuh di Israel.
Di sini koeksistensi ada
Di sini orang-orang Arab adalah orang-orang Arab yang paling berbahagia di Timur Tengah

Jamal, asisten dari Faiza di unit perawatan intensive, tersenyum pada kami, ”Dia (Faiza) adalah spesial,” Jamal berkata.
”Kita semua spesial,” Faiza menjawab, dan menambahkan, ”Sebab kita hidup di tempat yang spesial.”
Kami saling berpelukan.
”Dimana lagi seorang Muslim telah dapat berbicara seperti ini dengan seorang Yahudi Orthodox?”
Gheula Canarutto Nemni

Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” (Kejadian 12:3, ITB)

Sumber: What Israel is giving me: The voice of an Arab doctor by Gheula Canarutto Nemni. TimeofIsrael.com, March 1, 2016

“Terlahir untuk memuliakan Adonai Yeshua Messiah dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa” – Joseph Hendry

Advertisements