Tags

,

Karena pemerintah adalah hamba Elohim untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Elohim untuk membalaskan murka Elohim atas mereka yang berbuat jahat. (Roma 13:4)

Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (wikipedia)Setiap orang Indonesia tahu bahwa negara Indonesia adalah negara Muslim terbesar di dunia, fakta ini pun telah diketahui secara umum di dunia. Berkaitan dengan bapak Basuki Tjahaya Purnama, atau ”Ahok” panggilan akrabnya, yang saat ini menjabat sebagai gubernur Jakarta dan akan mencalonkan dirinya kembali untuk periode yang kedua, ada terdapat silang pendapat di antara umat Muslim Indonesia: salahkah seorang non-pribumi, khususnya bukan seorang Muslim menduduki kursi penting di pemerintahan Indonesia? Apakah menurut pendapat anda? Silahkan memberi komentar.

Bagi saya, orang Jakarta yang lahir diawal 60an, tumbuh dan dewasa di Jakarta, saya menghindari pulang ke Jakarta sebisa mungkin saat saya tugas di Bali sebab cape dan kesal melihat kemacetan lalu-lintas dan pasar-pasar yang tidak teratur, belum lagi melihat gaya hidup mafianya (dari penodongan di jalan sampai korupsi di meja pemerintahan) ditambah banjir tahunan; hal-hal ini saja telah merugikan kota Jakarta dan penduduknya milyaran rupiah per bulan. Jakarta perlu dibenahi secepat mungkin. Bukan dengan janji-janji indah, tapi langkah-langkah perbuatan nyata!

Masalah Ahok berada di kursi pemerintahan haruslah kita (1) melihat itu dari perspektif yang lebih besar – lebih luas, lebih dalam dan lebih tinggi – tidak hanya dalam lingkup ”Muslim dan Indonesia,”  dan (2) melihat masalah politik ini pada tempatnya yang setepat mungkin – jika rakyat Indonesia dalam hal ini ibukota Jakarta ingin maju di dalam segala bidang kehidupuan. Saya akan jelaskan apa yang saya maksud tentang kedua hal tersebut. Saya memulainya dengan masalah yang paling mudah yakni penempatan masalah pemerintahan negara lalu terakhir oknum pejabat.

Pemerintahan dan Keagamaan Rakyatnya

Seharunyalah masalah pemerintahan tidak dicampur adukan dengan masalah keagamaan, keduanya jelas berbeda tujuan dan berbeda landasan moral. Sekeras apapun seorang mencoba mencampurkan keduanya, keduanya tidaklah akan bisa bersatu dan hanya merugikan si pelaku dan orang banyak. Tiga bahkan empat contoh fakta sejarah:

– Perang Suriah. Maret 2016 Perang ini memasuki tahun ke enam. Akar dari perang ini adalah usaha negara-negara Timur Tengah (Muslim Sunni) menjatuhkan presiden Suriah Bashar al-Assad (Muslim Shia); PBB melaporkan dua pertiga penduduk Suriah telah menjadi pengungsi. Pada saat yang bersamaan negara-negara Sunni yang sama tersebut, termasuk Turki, sedang menuai apa yang mereka tabur di Suriah; ancaman terrorist dari kelompok “Islam radikal” di dalam negara mereka sendiri.

– Nazi Jerman. Keruntuhan negara Jerman di abad 20 ialah campur tanganya agama Roma Katolik atas dunia pemerintahan; dipermukaan gerakan NAZI nampak sebagai perjuangan politik dan ekonomi, namun akarnya adalah kebencian pada kelompok-kelompok ras dan agama yang berbeda.

– Perancis. Keruntuhan ekonomi negara Perancis di abad ke 18 adalah akibat raja bersedia diatur oleh paus untuk menekan dan membunuh orang-orang Kristen Protestant Perancis yang adalah para usahawan dan karyawan yang merupakan tulang punggung ekonomi negara saat itu. Peristiwa ini dikenal sebagai The Saint Bartholomew’s Massacre

– Pada jaman Yeshua, Israel berada di bawah pendudukan Romawi, dan Kaisar Romawi menempatkan Herodes (orang Nebatian) sebagai raja di Israel. Pada suatu kali para imam kepala dan para rohaniwan Israel melalui beberapa orang Farisi (sejenis Yahudi Orthodox  saat ini) dan Herodian (pegawai Herodes) melontarkan pertanyaan jebakan kepada Yeshua,  Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?” Mereka ingin memakai Pemerintah untuk menyingkirkan Yeshua karena iri hati semakin banyak orang Yahudi mengikuti ajaran Yeshua.

“Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Elohim apa yang wajib kamu berikan kepada Elohim!, Yeshua menjawab.

Dengan kata lain Yeshua berkata, “Tempatkanlah kehormatan dan tanggung jawab dan pengabdian kamu pada tempat-tempat yang semestinya. Pemerintah dan Elohim menuntut kamu kewajiban yang berbeda.” Akibat pencampuran yang dipaksakan ini, Yeshua dihukum mati tersalib: sekitar 40 tahun kemudian seluruh orang Yahudi yang tinggal di Yerusalem diusir keluar oleh Titus (jendral Romawi), Bait Suci mereka yang megah dan indah tersebut dibakar dengan semua orang yang ada di dalamnya, dan tembok Bait tersebut diruntuhkan hingga tidak ada satu batupun berdiri di atas batu lainnya. Suatu pelajaran yang sangat berharga dan sangat mahal bagi para rohaniwan.

Pemerintahan dan Kelompok Suku Minoritasnya

Fakta adalah kelompok-kelompok suku minoritas selalu ada di setiap negara. Eropa, Amerika Utara (Kanada dan Amerika Serikat) serta Australia yang kita kenal sebagai ‘Benua-benua Orang Barat’ penuh dengan suku-suku minoritasnya masing-masing. Negara-negara Teluk Timur Tengah yang dikenal dengan ‘Negara-negara Orang Arab’ juga penuh dengan suku-suku minoritas. Tidak dapat disangkali bahwa sering kali kelompok-kelompok suku minoritas ini memegang peranan penting dalam roda-roda kehidupan negara-negara dimana mereka hidup. Tiga contoh:

– Negara-negara Teluk. Di negara-negara Teluk yang maju seperti Emirat Arab, Kuwait dan Qatar tulang punggung Pemerintahan adalah suku-suku minoritas. Ahli perminyakan dan arsitek bangungan mereka serta bidang-bidang penting lainnya termasuk penasehat keamanan negara adalah orang-orang non-Arab dan bukan Muslim. Ekonomi negara-negara Arab tetap berputar karena orang-orang dari suku-suku minoritas.

– Negara Jerman. Jerman memiliki banyak suku minoritas, yang terbesar adalah orang Turki. Setelah Perang Dunia Ke Dua, Jerman kalah dari Tentara Sekutu, jutaan prianya meninggal, kota-kotanya hancur. Namun Jerman bangkit kembali dengan segera oleh karena mengundang masuk orang-orang Turki untuk pekerjaan konstruksi dan industri.

– Negara Indonesia. Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, suku minoritas Tionghoa (orang Cina) hanyalah sekitar dua belas (12) persen. Namun harus diakui bahwa negara Indonesia saat itu merupakan pengeksport bahan baku bagi negara-negara tetangganya dan barang tekstil bagi negara-negara telah berkembang (Barat). Dikatakan saat itu bahwa “sebagian besar ekonomi Indonesia dijalankan oleh orang Tionghoa.”

– Negara Israel. Kita perlu belajar dari kesalahan raja Rehabeam, putra raja Salomo. Salomo, ayahnya, adalah orang yang terkenal bijaksana, rakyat Israel yang terdiri dari 12 suku hidup makmur dan bersatu, dan damai. Salomo menjalin hubungan politik dengan negara-negara sekitarnya, bahkan kebijaksanaannya sampai ke negara Yeman dimana ratu Sheba berasal. Segera Rehabeam menjadi raja, ia menekan rakyatnya sendiri (yang bukan berasal dari sukunya) yang meminta keringan tanggung jawab. Ia menerima nasehat teman-temanya yang juga masih muda yang berkata, “Beginilah harus kaukatakan kepada rakyat yang telah berkata kepadamu: Ayahmu telah memberatkan tanggungan kami, tetapi engkau ini, berilah keringanan kepada kami–beginilah harus kaukatakan kepada mereka: Kelingkingku lebih besar dari pada pinggang ayahku!  Apa akibatnya? Negara terpecah. 10 suku dari 12 suku keluar dari pemerintahannya, dan membentuk kerajaan sendiri!! Bacalah kitab 2 Tawarikh 10.

Fakta adalah suku minoritas tidak dapat diabaikan, mereka adalah bagian integral dari tubuh pemerintahan. Rasul Paulus melukiskan masalah minoritas ini dengan indahnya, “Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. Elohim telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan.  (1 Korintus 12:22-25)

 Pemerintahan dan Kalender Elohim

Adalah jelas bahwa kita tidak bisa mencampur aduk masalah Pemerintah dengan Agama, namun jelas bahwa Elohim Yang Mahakuasa campur tangan secara langsung dan tidak langsung atas masalah Pemerintah Dunia.

  • Ia telah membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya: juga Ia telah menaruh kekekalan dalam hati mereka, namun manusia tidak dapat memahami pekerjaan yang Elohim telah buat dari awal bahkan sampai akhir,” (Pengkotbah 3:11, Geneva) Raja Salomo menulis.
  • “Elohim Yang Mahatinggi memiliki kuasa dalam kerajaan manusia; dan Dia mengangkat ke atasnya siapa pun yang Dia kehendaki,” (Daniel 5:21, ILT) Daniel Perdana Menteri Kerajaan Babilonia dan Medi-Parsi menulis pada bukunya.

Dalam sejarah pemerintahan negara, Alkitab mencatat bagaimana Elohim pada masa tertentu menempatkan orang-orang tertentu sebagai orang penting di kursi politik pada negara besar dan berpengaruh sekalipun mereka berasal dari kelompok suku minoritas. Tiga contoh pribadi yang merubah banyak negara

Yusuf di Kerajaan Mesir. Siapa yang akan menduga bahwa remaja yang dijual oleh saudara-saudaranya sebagai budak suatu saat kelak akan menjadi orang kedua terpenting di sebuah kerajaan yang sangat besa saat itu, Kerajaan Mesir!

Firman Elohim menjelaskan dengan begitu jelas bahwa keberadaan pemuda Ibrani ini di Mesir tersebut bukanlah kebetulan. Yusuf melalui moral yang tinggi dan hikmat serta kebijaksanaanya telah menyelamatkan seluruh bangsa Mesir banyak suku bangsa lainnya (Kej. 41:55-57), termasuk bangsanya sendiri (yang baru berjumlah 66 jiwa; Kej. 46:26) dari tujuh tahun masa kelaparan di Timur Tengah karena kekeringan air.

Campur tangan Elohim di Mesir melalui Yusuf diakui oleh Firaun dan semua pengawainya;

  • Lalu berkatalah Firaun kepada para pegawainya: “Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Elohim?”  (Kej. 41:38)
  • Kata Firaun kepada Yusuf: “Oleh karena Elohim telah memberitahukan semuanya ini kepadamu, tidaklah ada orang yang demikian berakal budi dan bijaksana seperti engkau. Engkaulah menjadi kuasa atas istanaku, dan kepada perintahmu seluruh rakyatku akan taat; hanya takhta inilah kelebihanku dari padamu.”  (ayat 39-40)

Yusuf, orang Ibrani yang kurang dari 1 % di Mesir, menjadi orang kedua tertinggi setelah raja Firaun.

Daniel di Kerjaaan Babilon (Irak). Sekitar 1100 tahun setelah Yusuf, Elohim membangkitkan Nebukadnezar raja Babilon untuk mengajar bangsa Ibrani kembali kepada YAHWEH (Dan. 1:1-2). Para pemuda Ibrani yang sehat dibawa ke Babilon sebagai budak, diantaranya adalah Daniel.

Elohim memberi kepandaian yang khusus kepada Daniel dan tiga rekan sebangsanya. Elohim mempromosikan Daniel melalui jalan yang luar biasa mengerikan: raja Nebukadnezar mengancam membunuh semua orang pintar di kerajaannya jika tidak seorang pun yang bisa menceritakan isi mimpinya beserta makna mimpinya. Daniel dan rekan-rekannya setelah berpuasa mencari kemurahan YAHWEH mendapat jawabannya.

“Sesungguhnyalah Elohimmu, Dialah Elohim segala ilah dan Adonai segala raja dan penyingkap rahasia, karena engkau telah telah dapat menyingkapkan rahasia ini,” raja berkata. Ayat berikutnya tertulis: “Dan raja menjadikannya penguasa atas seluruh wilayah Babilon dan menjadi kepala semua orang bijaksana di Babilon. Lihat Dan. 2:47-48

Mordekhai di Kerajaan Medi-Farsi (Iran). Ahasyweros, raja Medi-Farsi mengangkat Perdana Menteri yang baru, namanya Haman, orang Agag suku Amalek (Yordania modern). Haman sesungguhnya otak dibelakang rencana pembunuhan raja, musuh dalam selimut. Mordekhai keturunan orang Yahudi dari suku Benyamin dipembuangan menggagalkan aksi assasinasi tersebut. Keluarga Agag memiliki dendam kesumat dengan orang Israel; baca Kitab Ulangan 25:17-19 dan kitab 1 Samuel 15; jadi Haman ingin memiliki jabatan penting di Medi-Farsi untuk membinasakan seluruh orang Yahudi di Timur Tengah. Haman memanipulasi raja dengan hebatnya, sehingga tanpa raja sadari ia menyetujui pemusnahan bangsa Yahudi. Kitab Ester sama sekali tidak menyebut nama Elohim, namun campur tangan Elohim jelas nyata tertulis dalam kitab tersebut; (1) Ester, keponakan Modekhai terpilih sebagai ratu, (2) raja tidak dapat tidur malam beberapa hari sebelum tanggal pemusnahan bangsa Yahudi, (3) raja malam itu juga minta dibacakan kitab biografi raja dimana ada tertulis tentang jasa Mordekhai menyelamatkan raja – namun dilupakan.

Hanya dalam dua hari setelah pembacaan kitab biografi raja, permainan politik berubah total! Raja memerintahkan untuk Haman dan rekan-rekannya dihukum gantung pada gantungan yang ia ciptakan sendiri. Sejarah mencatat, orang Yahudi tetap aman dan Kerajaan Medi-Farsi semakin jaya dibawah Mordekhai sebagai Perdana Menteri dan Ester sebagai permaisuri raja,

”Maka raja Ahasyweros mengenakan upeti atas negeri dan daerah-daerah pesisir juga. Segala perbuatannya yang hebat serta gagah dan pemberitaan yang seksama tentang kebesaran yang dikaruniakan raja kepada Mordekhai, bukankah semuanya itu tertulis di dalam kitab sejarah raja-raja Media dan Persia?  (Ester 10:1-2)

Kesimpulan. Dari bukt-bukti ini, kita bisa melihat bahwa Elohim campur tangan dalam dunia politik atau pemerintahan negara, namun kita tidak bisa memcapurkan keagamaan dalam pemerintahan maupun sebaliknya, pemerintah ke dalam keagamaan.

Kelompok Minoritas tidaklah bisa diabaikan apalagi dikucilkan, dimanapun di negara apapun sebab (1) mereka juga ciptaan Elohim dan (2) dipakai Elohim menjadi bagian dari berkat-Nya untuk negara dimana mereka berada.

Jika Elohim telah menetapkan bapak Basuki Tjahaya Purnama, atau ”Ahok” untuk menduduki kursi Pemerintahan di Indonesia itu adalah berkat bagi kita, sebab Pemerintah berasal dari Elohim untuk kebaikan kita. Baca kitab Roma pasal 13. Jika ada kelompok yang ingin menggagalkan dan mempersulit tugas-tugas pemerintahan bapak Basuki itu berarti kelompok tersebut menentang rencana Elohim atas Indonesia, dan mereka berurusan secara langsung dengan kuasa Elohim, siapakah yang bisa menang dan tetap berdiri melawan Elohim? Mereka bukan saja pasti kalah, lebih lagi akan musnah, seluruh kejahatan mereka yang mereka buat akan tertimpa kepada diri mereka sendiri, seperti musuh-musuh Daniel dan Mordekhai.

Saatnya sekarang kita memberi kesempatan kepada kuasa dan tangan Elohim untuk bekerja di Jakarta dan Indonesia melalui orang-orang yang Dia telah tetapkan untuk menjabat kursi Pemerintahan. Sudah saatnya Indonesia dipulihkan dan menjadi kesukaan dan berkat bagi banyak bangsa. Jika Jepang negara kecil dan tidak memiliki sumber alam bisa menjadi negara berpengaruh di Asia dan Dunia, tentu Indonesia yang besar secara geografi, jumlah penduduk dan kaya dengan budaya, bahasa (lebih dari 770 bahasa suku) serta kaya dengan sumber daya alam tentulah bisa menjadi negara besar  – jika kita mengijinkan Elohim Yang Mahakuasa campur tangan melalui pribadi-pribadi yang Dia telah siapkan. God bless Indonesia!!!

“Terlahir untuk memuliakan Adonai Yeshua Messiah dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa” – Joseph Hendry

Advertisements