Tags

, , ,

Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang. (2 Korintus 3:2)

Embun pagi di atas rerumputan (funpulp.com)Seorang pengembara kemalaman dan menemukan sebuah gudang kecil tua yang tidak terpakai lagi, ia masuk dan segera tertidur karena letih setelah perjanlan jauh. Ia terbangun dari tidurnya karena datangnya cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah-celah tembok kayu dimana satu diantaraya jatuh tepat pada mukanya. Sementara masih berbaring ia mengawasi garis-garis cahaya  tersebut, ”betapa indahnya!,” ia berseru. Ia dapat melihat adanya debu-debu bergerak di udara dalam gudang tersebut.

Ia berdiri dan membuka pintu gudang, lalu melangkah keluar dan terpesona. Ia melihat padang rumput hijau yang segar dan bersinar seperti ribuan lampu kecil yang menyala karena tetesan-tetesan embun pagi pada rumput tersebut memantulkan sinar matahari. Ada beberapa bajing yang sedang mencari makan sementara di atas pohon burung-burung bernyanyi. Balik ke gedung tua untuk mengambil tas perjalanannya dan menemukan bahwa gudang yang telah memberi ia tidur nyenyak ternyata penuh dengan barang-barang tua yang berdebu tebal.

Setiap kita memiliki kotak budaya sendiri, kotak dimana kita terbiasa hidup di dalamnya. Kotak-kotak budaya tersebut mungkin berbeda ukuran dan kita berusaha mendekorasi dan mewarnai tembok dalamnya agar nampak nyaman bagi kita sendiri dan berpikir: ”kotak budaya saya adalah yang terbaik dan paling benar dan paling menyenangkan.”

Jika kita bersedia sedikit saja meluangkan waktu untuk berpikir maka kita akan sadar bahwa ada kesalahan dalam pola pikir ”budaya saya adalah yang terutama,” sebab jika ada sepuluh ”terbaik” dan ”terbenar” itu berarti ada sembilan yang salah berpikir atau sedikitnya tidak ”ter._”

Kenyataan yang sesungguhnya banyak orang sadar bahwa yang kita miliki tidaklah memuaskan kita, namun kita takut untuk berubah, takut untuk keluar, sudah terbiasa dengan kebiasaan ”karena nenek saya telah berkata demikian dan berbuat demikian.” Kita takut untuk keluar dari kotak budaya kita. Sehingga tanpa kita sadari, kita telah berusaha memasukkan Elohim Yang  Mahaagung dan Mahabenar ke dalam kotak budaya kita yang sempit dan terbatas.

Ketakutan untuk keluar dari kotak budaya menghambat banyak halTerperangkap dalam kotak budaya sendiri yang baik. Itu menghambat potensi maksimum kita sendiri, menghambat masyarakat di sekitar dimana kita hidup, terakhir namun paling fital kita menghambat rencana Elohim yang agung dan sempurna untuk tergenapi di dalam dan melalui diri kita.

Dalam kontek imigrasi, ketakutan untuk keluar dari kotak budaya bisa berakibat ketidak stabilan sebuah kota bahkan negara yang ujungnya bisa memicu perang sipil. Politikus Barat menyebut ketidak stabilan ini sebagai ”bentrok kemasyarakatan / clash of civilizations,” dimana pendatang baru sama sekali tidak mau menghargai nilai-nilai budaya dimana ia berimigrasi.

Masalah ini bisa tertolong jika masing-masing kita berani keluar dari kotak budaya kita. Menciptakan kotak budaya yang terbuka dan cukup memiliki ”jendela kaca” sehingga sinar matahari bisa masuk dan orang lain juga bisa melihat kehidupan kita.

Jika kita yang telah diubahkan dan dilepaskan dari ’ikatan’ budaya nenek moyang dan telah diterangi oleh sinar kemulian Elohim lalu bersedia keluar dari kepuasan diri kita sendiri untuk menghampiri orang lain yang masih ’terjebak’ dalam kotak budaya mereka maka lingkungan kita akan bertambah baik.

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. (Injil Yohanes 12:24)

Keluar dari sesuatu yang kita telah terbiasa melakukannya dan menganggapnya sebagai kebenaran yang terbaik memang tidak mudah dan ada harganya. Namun jika kita mentaati panggilan dan perintah Yeshua, the Bright and Morning Star, maka harga yang kita bayar tidaklah berarti dibanding dengan kemulian yang Elohim telah sediakan bagi kita di dalam Kerajaan-Nya yang kekal.

“Terlahir untuk memuliakan Adonai Yeshua Messiah dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa” – Joseph Hendry

Advertisements