Tags

,

“Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur. (Lukas 6:43-44)

Peta Negara-negara Timur Tengah dan Afrika UtaraDubai. Survey terbaru (11 Januari – 22 Pebuari) yang melibatkan 3500  respondent generasi muda Arab dari 16 negara di Timur Tengah: Bagaimana opini mereka tentang Daesh, (nama populer dari gerakan Negara Islam Sunni di Timur Tengah) telah diterbitkan tanggal 12 April 2016 oleh organisasi ASDA’A Burson-Marsteller.

“Studi Pemuda Arab Burson-Marsteller ASDA’A berfungsi sebagai barometer tren-tren sosial, politik dan ekonomi yang menyeluruh yang mendefinisikan dunia Arab melalui mata pemudanya,” Sunil John, CEO of ASDA’A Burson-Marsteller berkata.

Respondent yang  terdiri dari 50% pria dan 50% wanita berusia antara 18 sampai 24 tahun diwawancari secara tatap muka. Laporan survey dikelompokan ke dalam tiga wilayah geografi: Persatuan Negara-negara Teluk (PNT): Arab Emirat, Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar); Levant & Yemen: Libanon, Yordania, Palestina, Irak dan Yemen;  dan Afrika Utara (AU) melibatkan Algeria, Libya,Marokko, Mesir dan Tunisian.

Sebutan “Generasi Muda Arab” (Arab Youth) ini hanya setengah benar (mayoritas berbahasa Arab) sebab suku bangsa yang di tinggal di wilayah Levant adalah orang Aram dan Nabatean, dan di Afrika Utara adalah orang Barbar. Yang pasti lebih dari 90-95% semua penduduk negara tersebut adalah beragama Islam.

Menjawab pertanyaan: Katakan bagaimana kuatirnya kamu akan bangkitnya Negara Mayoritas generasi muda Arab dari 16 negara menolak Daesh (Negara Islam) Data Survey 2016Islam? 50% dari 77% respondent yang kuatir menyatakan ”sangat kuatir.” 22% tidak kuatir.

Pertanyaan: Jika Negara Islam tidak memakai begitu banyak kekerasan, saya dapat melihat saya sendiri mendukung itu. Respondent: 78% tidak setuju; 13% setuju dan 9% tidak tahu.

Ketika ditanya alasan utama apa sehingga beberapa orang muda tertarik kepada Negara Islam, tiga pilihan:

  • “Kurangnya pekerjaan dan kesempatan untuk orang-orang muda” adalah alasan tertinggi (24%);
  • “Kepercayaan bahwa interpretasi mereka tentang Islam adalah superior dari yang lainnya” (18%);
  • “Tensi keagamaan antara Sunni, Shia dan agama-agama lainnya di wilayah yang bersangkutan” (17%).

”Hanya 1 dari 6 (15%) percaya bahwa kelompok terroris ini akan pasti sukses dan mendirikan sebuah Negara Islam di Dunia Arab. Gantinya, 76 % percaya kelompok tersebut akan gagal dalam usahanya mendirikan Negara Islam,” data menyatakan.

Iran sebagai rekan terbesar dunia Arab? 13% setuju, namun 52% melihat Iran sebagai musuh. Mayoritas setuju bahwa konflik Sunni-Shia semakin memburuk.

Apa yang generasi muda harapkan saat ini dan masa depan?

  • Mayoritas (53%) setuju bahwa mempromosikan stabilitas di (masing-masing) wilayah adalah lebih penting dari mempromosikan demokrasi (28%)
  • Mayoritas pemuda Arab (52%) setuju bahwa agama Islam telah memainkan peranan terlalu besar di Timur Tengah; perincian: di PNA (61%); Levant dan Yamen (44%); AU (47%).
  • 2/3 (67%) setuju untuk para pemimpin mereka melakukan perbaikan kebebasan pribadi dan hak-hak asasi para wanita. Saudi (90%), Oman dan Yemen (87%).

The International Labour Organisation percaya bahwa orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan di dunia Arab mencapai 75 juta (75.000.000) orang. Itulah sebabnya Hassan Hassan, seorang pakar pakar Timur Tengah dan co-author buku Isis: Inside the Army of Terror (Negara Islam: Dapur Tentara Terror) mengingatkan pembaca survey bahwa ‘penyakit’ (Daesh) memang perlu digempur, tetapi ‘symptonnya’ (jobless dan hopelessness) perlu ada dijatuhkan. Daesh bisa melemah dan lenyap, namun jika ‘penyakit’ (kegagalan politik, ekonomi dan agama) tetap ada maka kelompok-kelomok sejenis (Daesh) akan bangkit,” Hasan berkata.

Hasil survey 2016 ini sangat menarik untuk diamati, khususnya jika dibandingkan dengan survey empat tahun sebelumnya (2012), dimana demontrasi generasi muda Arab turun ke jalan-jalan mencapai puncak tertingginya. Tahun 2012, survey menyatakan 72% pemuda Arab mendukung, namun 2016 kemudian hanya 36%!! Sungguh menarik.

Aksi demo ini berawal di Tunisia dengan cepat merambat ke berbagai dunia berbahasa Arab di AU, Levant bahkan ke PNA. Gerakan ini dikenal dengan berbagai nama: “Arab Spring,” “Arab Jasmin” dan “Arab Way;” suatu demo masyarakat yang segera berubah menjadi gerakan Revolusi Islam Sunni menumbangkan ‘para diktator’ dan berangan-angan menegakkan Hukum Sharia (Hukum Islam) sebagai undang-undang negara. Di PNA, para Muslim Shia juga telah mencoba Arab Way, namun mereka langsung di padamkan oleh raja-raja dan sultan setempat.

Dari Revolusi Islam ini atau the Arab Spring (media Barat menyebutnya) beberapa presiden telah berhasil ditumbangkan – M. Qadaffi terbunuh, lahirnya kelompok-kelompok bersenjata Islam fundamentalis, seperti Daesh (IS / ISIL / ISIS), dan bangkitnya kembali organisasi Muslim Persaudaraan (berpusat di Mesir). Hasil dari revolusi agama ini secara umum lebih banyak buruk dan rugi daripada untung; lahirnya perang sipil di banyak negara di Timur Tengah yang merengut ratusan ribu jiwa tewas dan jutaan menjadi pengungsi dan kota-kota menjadi puing reruntuhan. Suriah, Irak dan Libya dan Yemen masih dalam kondisi perang.

Survey Pemuda Arab 2014 Kami ingin memeluk nilai-nilai modernSaya pikir alasan utama mengapa generasi muda Arab saat ini menjadi berpikir negatif tentang gerakan Arab Spring, turun 36% (lihat data di atas), itu nampak berkaitan dengan  AKIBAT BURUK yang ditimbulkan gerakan itu sendiri, khususnya bagi mereka yang negaranya hancur karena perang, seperti nyata pada data survey 2016 tersebut, dimana dari respondent yang tidak mau mendukung Daesh (78%), jumlah terbesar berasal dari mereka yang tinggal di Levant (Libanon, Gaza, Suriah dan Irak) dan Yemen (89%), lalu diikuti Afrika Utara (dari Marokko, Algeria, Libya, Tunisia, Mesir): 76%; dan terakhir PNA (72%).

Ditambah dengan serangan-serangan bom di Turki, Afrika Tengah (Nigeria, Camerun, Somalia), Eropa (Perancis dan Belgia) tidaklah mengherankan bila pemuda Arab di 16 negara yang di survey memilih menprioritaskan “Keamanan” lebih dari “Demokrasi.” Tidak sedikit pakar Timur Tengah yang menyimpulkan “Diktatorsip” jauh lebih baik dan lebih stabil untuk negara Islam Timur Tengah dibanding “Kehampaan kepemimpinan” oleh karena peranan agama yang terlalu kuat di dalam pemerintahan dan kehidupan sosial masyarakat.”

Secara keseluruhan, Survey Pemuda Arab 2016 membawa kabar yang positif dan menggembirakan bagi Dunia, khususnya bagi Dunia Arab. Keamanan dan hak wanita semakin diperhatikan. Bravo for the Youth Arabs!!

Revolusi bersenjata alias perang – mengatas namakan apa pun – selalu merugikan, khususnya bagi rakyat jelata. Orang yang bijaksana akan selalu menghindari perang. Seorang jendral Israel, mantan pemimpin badan intelligent Israel berkata: “Israel tidak akan berperang, kecuali bila pisau menekan leher.”

 Sumber:

“Terlahir untuk memuliakan Adonai Yeshua Messiah dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa” – Joseph Hendry

 

Advertisements