Tags

, , ,

Namun, sebagaimana telah tertulis: Apa yang mata belum pernah melihat dan telinga belum pernah mendengar dan belum pernah timbul pada hati manusia, itulah yang telah Elohim sediakan (has prepared for), bagi mereka yang mengasihi Dia.” (1 Korintus 2:9, ILT)

Peta Israel dengan kota-kota utamanyaSaya termasuk orang Indonesia yang beruntung – dan bangga jadi orang Indonesia, karena dari sekitar 250 juta orang Indonesia, saya dilayakkan Elohim untuk melihat negara Israel dengan mata saya sendiri, berwisata seorang diri selama sebulan penuh telah memberi banyak kesempatan kepada saya untuk mencicipi budaya Israel; berurusan dengan petugas imigrasi, petugas keamanan, berdiskusi dengan beragam penduduk Israel, termasuk dengan orang-orang Muslim Arab warga negara Israel di setiap kota yang saya kunjungi. Saya juga berkesempatan beribadah di beberapa gereja, termasuk ibadah orang-orang Israel yang percaya kepada Yeshua Messiah.

Jika anda berkunjung ke Israel, dua hal yang pasti akan nampak jelas di depan anda dan keduanya adalah bagian dari budaya dan kehidupan orang Israel sehari-hari, setidaknya itulah yang saya lihat setiap hari dimanapun di Israel.

Yang pertama adalah kemana pun anda pergi, anda akan temukan tempat-tempat yang relatif bersih dan rapih serta ketertiban dalam berkendaraan. Pantai-pantai dari kaki Gunung Karmel di Haiva di utara Israel sampai ke Tel Aviv dan Askelon, kota pantai barat paling selatan Israel sungguh nyaman untuk dikunjungi; khususnya yang terakhir disebut, pantai Askelon sungguh indah dengan fasilitas ganti baju serta air mancur – semuanya bebas biaya dan rapih bersih!! Seminggu di kota Yerusalem Tua (the Old Jerusalem), saya temukan bahwa toilet umum orang Yahudi adalah toilet yang paling bersih diantara lainnya. Lapangan Tembok Ratapan yang 3 kali sehari dipakai berdoa dan penuh turis pada sore itupun nampak selalu rapih.

Kunci dari kebersihan dan kerapihan Israel, saya pikir, itu terletak pada hati dan jiwa mereka. Saya berikan beberapa hal yang saya amati.

Pada hari-hari Sabat (Jumat sore sampai Saptu sore) di berbagai kota jalan-jalan akan nampak sunyi, toko-toko tutup; kecuali di Tel Aviv, dimana hampir semua kantor Kedutaan Besar berlokasi. Ini merupakan ekpresi gaya hidup orang Israel bahwa mayoritas orang Yahudi – sekalipun tidak semuanya rohaniwan – mematuhi Sepuluh Perintah Elohim, Mengingat dan menghormati Hari Sabat-Nya adalah satu dari 10 Perintah-Nya.

Alasan yang kedua adalah kesadaran dan tanggung jawab yang tinggi dari masyarakat Israel itu sendiri terhadap kehidupan dan lingkungan dimana mereka hidup. Air adalah komoditi yang mahal di Israel, sebagaimana layaknya di benua Australia, dengan berubahnya tanah-tanah tandus di israel menjadi hutan-hutan dan tanah hijau (perkebunan dan taman) hanya dalam 68 tahun (terhitung dari lahir kembalinya negaa Israel), itu membuktikan komitmen mereka yang tinggi atas kehidupan dan lingkungan.

Hal kedua yang juga umum di Israel dan menarik untuk diamati adalah anda akan temukan pria dan wanita berbaju tentara, di bus-bus, kereta, di jalan-jalan, tempat-tempat stasiun bus dan kereta api penuh dengan orang-orang berbaju tentara yang sedang menuju tempat kerja dan pulang kerja atau mereka sedang latihan (lulus SMA mereka wajib militer), ya tentu mereka menyandang senjata api, saat bertugas. Jumlah kehadiran mereka jauh melebihi apa yang saya lihat  di Irak utara.

Tempat-tempat umum di Israel seperti musium, taman dan mol baru boleh dibuka gerbangnya setelah petugas keamanan yang memiliki senjata api tiba di tempat, ini adalah hukum pemerintah Israel. Saya pernah menunggu lebih dari 45 menit sebelum gerbang Taman Kuil Bahai dibuka sekalipun di situ sudah ada dua Satpam, ”Kami harus menunggu Satpam yang punya ijin Tentara-tentara Israel yang bahagiamembawa senjata tiba,” seorang Satpam berkata kepada saya.

30 tahun lebih hidup di Jakarta, saya tentunya terbiasa melihat orang-orang berbaju tentara, namun pengalaman saya di Israel memberi kesan lain tentang tentara dan kehadiran mereka di muka umum.

Saya melihat keletihan pada sebagian wajah mereka, ya tidak mudah jadi tentara di Israel, selain harus siaga penuh ditambah dengan cuaca yang panas dan padang pasir, janganlah heran jika anda mendapatkan mereka sedang tidur ayam di kendaraaan umum saat perjalanan pulang tugas mereka. Pada awalnya saya berhati-hati dengan mereka, mengingat pemerintah Indonesia dan Israel tidak punya jalinan politik resmi, namun melihat wajah mereka yang ceria dan ramah, serta tampan-tampan dan cantik-cantik, saya memberanikan diri mendekati mereka. Mereka adalah orang-orang yang siap menolong dan … ramah! Pernah sekali, di sebuah taman di kota Tua Yerusalem saya melihat sejumlah pemuda dan pemudi sedang latihan militer terbagi dalam kelompok-kelompok, masing-masing ketua dengan kertas tugas di tangan. Saya menghampiri sebuah kelompok, bertanya sedang apa, dan meminta kesedian mereka berfoto dengan saya. Reaksi mereka terhadap orang asing Indonesia ini? Silahkan amati foto ini, ”Sebuah gambar lebih jelas dari seribu kata-kata” pepatah kuno berkata.  Saya memberi tanda “OK” kepada pengambil foto. With Israeli Soldiers

Jika anda melihat sekelompok tentara berada di muka umum di sebuah kota di negara Barat, itu berarti adanya ketidak amanan (baru terjadi atau diperkirakan akan terjadi). Di Irak utara, pada wilayah yang dikontrol oleh PBB juga banyak pos-pos pemeriksaan di jalan-jalan, seperti di Israel. Selama saya di Irak tiga bulan, hampir setiap hari, khususnya malam hari terdengar rentetan bunyi senjaa api, sesuatu yang tidak saya dengar satu kalipun di Israel! Ya mereka siaga penuh, namun perayaan pribadi maupun nasional yang penuh dengan nyanyian, tarian dan jeritan suka cita jalan terus. Atmosfir kehidupan di Israel jauh berbeda dengan berita-berita dunia tentang Israel!

Banyak turis berkata bahwa mereka lebih merasa aman berada di jalan-jalan di Israel dibanding negara mereka sendiri, inipun saya alami sendiri. Penyalah gunaan senjata api dan jabatan militer sangatlah sedikit di Israel, kelompok minoritas, termasuk orang Muslim Arab warga Israel, memiliki rasa aman dan persamaan hak di Israel. Pertengahan Maret ini seorang tentara muda Israel ditahan karena ia menembak mati satu dari dua pemuda Palestina yang mencoba membunuh tentara Israel lainnya dengan pisau  mereka, media melaporkan. Aksi pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang Palesitna atas orang Israel baik sipil maupun petugas keamanan terjadi hampir setiap hari sejak Oktober 2015. Orang-orang Israel diserang secara tiba-tiba dengan pisau, atau dengan mobil yang ditabrakkan ke mereka yang sedang bertugas bahkan rakyat sipil yang menunggu di perhentian-perhentian bus. Kasus penangkapan tentara yang menembak mati pelaku terror ini sekarang menjadi debat yang ramai di Israel. Di sini terlihat bahwa secara hukum Israel, musuh yang ingin membunuh orang Israel sekalipun memiliki kekebalan hukum – tidak pandang bulu agama apa pun mereka.

Apa yang anda bisa bayangkan ketika melihat parade militer dari sebuah negara, misalnya Iran, Korea Utara, Russia? Sedikitnya akan timbul kegentaran, itulah memang tujuan diadakan “pamer kekuatan.” Namun itu sama sekali berbeda dengan parade tentara Israel, lihat video ini: Israeli Soldiers IDF Medley Songs. Itu penuh dengan suka cita dan ini … membawa damai: HATIKVA – Israel Defense Forces

Saya datang ke Israel pertengan September, beberapa hari sebelum Perayaan Pondok Daun atau Sukkot dimulai. Setiap halaman rumah atau atap rumah mereka membuat pondok-pondok dari daun atau dari kain. Elohim memerintahkan mereka untuk tinggal tujuh hari di pondok-pondok untuk mengingat bagaimana nenek moyang mereka keluar dari perbudakan Mesir dan harus tinggal di pondok-pondok sebelum sampai ke Tanah Perjanjian.

Saya mendengar suara dari sebuah Sinagoge yang hanya berjarak sekitar 30 meter dari penginapan saya berlokasi 30 menit perjalanan turun ke Danau Tiberias.  ”Mereka sedang berdoa minta hujan. Sudah lebih seminggu mereka berdoa,” tuan rumah dimana saya menginap menerangkan, ”Sudah sejak Juli tidak turun hujan di Israel,” ia menambahkan. Beberapa menit kemudian, tiba-tiba terdengar suara bising di atas genteng oleh butir-butir hujan yang deras tetapi singkat, namun sudah cukup untuk membasahi tanah yang kering. Suara doa menjadi suara teriakan kegembiraan, saya berlari keluar dan nampak para pria dan wanita Yahudi (40-50 orang, umumnya adalah laki-laki) keluar dari gedung Sinagoge dengan bernyanyi sambil menari-nari mengelilingi seorang yang membawa tabung gulungan Torah / kitab Musa (sekitar 80 cm tingginya dan 20 cm diameternya). Mereka penganut Yudaisme namun bukan dari kelompok ‘Farisi’ (berpakaian serba hitam: topi, jas, jubah dan celana panjang).

Saya hampiri mereka dan mendokumentasikan pengarakan kitab Musa ini dengan video camera telpon saya – tanpa permisi siapapun dan satu-satunya orang yang merekam kejadian tersebut.

Tiba-tiba seorang pria yang lanjut usia di antara mereka, dengan pakaian ibadahnya ia nampak seperti pemimpin kelompok, menghampiri saya yang hanya sekitar 5 meter dari arak-arakan meriah tersebut. Tanpa satu katapun, tangan kirinya segera memegang pergelangan tangan kanan saya yang sedang merekam. ”Saya sedang bermasalah besar!,” suatu pikiran tiba-tiba muncul di dalam kepala saya ketika dengan tangannya tersebut ia menarik saya ke tengah jalan dimana kumpulan arakan itu berada.

Lalu …, anda tahu apa yang terjadi selanjutnya? Bapa yang sama ini kemudian dengan tangan kanannya meraih tangan kiri saya, lalu mengangkat kedua tangan saya … ia mulai meloncat-loncat mengajak saya turut menari berkeliling, sehingga telpon saya terlempar dari jari saya dan jatuh ke aspal – saya beruntung sebab saat itu saya memakai Nokia N8, telpon tetap berfungsi normal bertahun-tahun sampai saya menggantinya karena bosan.

Saya pungut telpon dan memasukkan ke sarung telpon tanpa sempat mematikan rekaman, melanjutkan tarian segera turut hanyut dalam suka-cita mereka.

Rakyat semakin banyak menonton dan sebagian pria turut dalam arakan. Sampai di puncak bukit, sekitar 100 meter dari Sinagoge arak-arakan berhenti.

Saya berkata kepada beberapa pria Israel yang berada dalam arakan tersebut, ”Saya sungguh percaya hujan yang turun tersebut adalah jawaban YAHWEH, Elohim Israel (saya menyebut NAMA ini secara sengaja di depan mereka seperti apa yang saya tulis) atas doa-doa kalian.” ”Kami pun telah berpikir demikian pula, Ha Shem telah menjawab doa kami!” Ha Shem orang Yahudi menyebut Nama-Nya yang berarti ”The Name.”

Penerimaan orang Israel atas ”orang asing asal Indonesia” ini berlanjut di banyak tempat, bahkan di tempat paling suci mereka, di halaman doa Tembok Ratapan, di Yerusalem Kuno! Dua kali pada waktu yang berbeda di halaman doa tersebut saya diajak untuk turut menari sambil bergandengan tangan mengelilingi meja-meja sementara beberapa dari mereka memakai meja-meja tersebut sebagai drum.

Di tengah-tengah ancaman orang-orang yang memusuhi mereka, orang-orang Israel adalah orang yang ceria dan optimis. Ini mengingatkan saya suatu Amsal yang dibuat oleh raja Salomo: Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” (Amsal 17:22)

Tambahan dari itu, mereka sangat welcome serta hormat kepada orang asing. Menurut penuturuan Rev. Juha Ketola, salah satu pemimpin dari Organisasi Internasional Christian Embassy Jerusalem (ICEJ)   ketika saya bertanya tentang jumlah turis Indonesia yang datang ke Yerusalem untuk menghadiri Perayaan Pondok Daun (The Feast of Tabernacles), jawabannya sungguh menakjubkan: ”Setiap tahun jumlahnya bertambah banyak! Dua turis Indonesia yang baru berkunjung dari Israel di awal 2017, bercerita kepada saya bahwa jumlah turis Indonesia berkunjung ke Israel menempati posisi ketiga tertinggi di dunia.

Saya berpikir negara Indonesia akan banyak mendapat keuntungan jika menjalin hubungan bilateral secara formal dengan negara Israel. Israel sangat maju pesat di dalam ilmu teknologi, kedokteran dan perkebunan. Dua-tiga tahun belakangan ini Arab Saudi mengikuti jejak negara Mesir dan Yordania di dalam menjalin ikatan perjanjian damai dengan negara Israel.  Tambahan kita bisa mendapatkan devisa tambahan dari bidang turisme. Selama ini banyak orang Israel berlibur ke Turki dan Mesir; Indonesia tentu memiliki daya pikat tersendiri dengan budayanya yang kaya dan ribuan pulaunya yang permai dan indah.

“Terlahir untuk memuliakan Adonai Yeshua Messiah dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa” – Joseph Hendry

Advertisements