Tags

, , , ,

Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya. Orang berhikmat senang berada di rumah duka, tetapi orang bodoh senang berada di rumah tempat bersukaria.  (Pengkotbah 7:2,4)[1]

The flag-draped coffin of former Israeli President Shimon Peres is carried by an honour guard at the start of his funeral ceremony at Mount Herzl cemetery in Jerusalem

Penguburan Shimon Peres

Shimon Peres, 93 tahun, satu dari bapa pendiri negara Israel, dikenal juga sebagai pemimpin negara yang cinta damai telah dikuburkan hari Jumat (30/9/2016) di Yerusalem, ibukota Israel. Dihadiri 150 kepala negara; salah satunya adalah Presiden Amerika Serikat Baraq Hussein Obama. Kata pujian Presiden Obama kepada almarhum Shimon Peres sungguh memukau jutaan pendengarnya, baik orang Israel maupun masyarakat dunia. Ia juga mengutip ayat terkenal dari kitab Torah, kitab yang paling terkenal di seluruh kitab Perjanjian Lama dan dibaca oleh oleh banyak orang Yahudi setiap hari.

”Shimon suatu kali berkata, ’Pesan bangsa Yahudi kepada manusia adalah bahwa iman dan visi moral dapat menang atas semua kesulitan,’” presiden Obama berkata

Obama mendaftarkan pekerjaan baik yang Simon telah hasilkan,

”Setelah kemerdekaan [Israel], dikelilingi oleh musuh-musuh yang menyangkal keberadaan Israel dan berusaha untuk membuangnya ke dalam laut, anak yang ingin menjadi penyair besar telah menjadi manusia yang membangun industri pertahanan Israel, yang meletakkan dasar bagi angkatan bersenjata tangguh yang memenangkan perang-perang Israel. …Keberaniannya mengirim para komando Israel ke Entebbe,[2] dan menyelamatkan orang-orang Yahudi dari Ethiopia.[3] Diplomasinya membangun ikatan yang tidak-terpecahkan dengan Amerika Serikat dan banyak negara-negara lainnya.” ”Keterlibatannya tidak berakir di situ. …”

”Cerita Shimon, Cerita Israel, pengalaman bangsa Yahudi, saya percaya itu adalah universal. Itu adalah cerita sekelompok orang yang, berada beberapa abad di padang belantara, tidak pernah menyerah yang setiap dasar manusia berharap untuk kembali pulang. .. “Shimon Peres mengingatkan kita bahwa Negara Israel, seperti Negara Amerika Serikat, tidak dibangun oleh  sinis. Kita ada oleh sebab orang-orang sebelum kita yang menolak untuk ada dibatasi oleh masa lalu atau kesulitan-kesulitan saat ini. Dan Shimon Peres tidak pernah sinis. Itu adalah iman, yang percaya – bahkan ketika semua bukti adalah berlawanan – bahwa besok dapat ada lebih baik, yang membuat kita tidak hanya menghormati Shimon Peres, tetapi mengasihi dia”

”Seperti (nabi) Yoshua, kita rasakan berat dari tanggung jawab yang Shimon nampaknya memikulnya begitu ringan. Tetapi kita menarik kekuatan dari teladannya dan fakta ialah bahwa ia percaya kepada kita bahkan ketika kita meragukan diri kita sendiri.”

Lalu Obama menutup kata pujiannya dengan mengutip ayat dari kitab Torah:

”Kitab Suci bercerita kepada kita bahwa sebelum kematiannya, (nabi) Musa berkata, ’Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu’”

“Uvacharta Bachayim. Pilihlah kehidupan. Bagi Shimon, marilah kita memilih kehidupan, sebagaimana dia selalu lakukan. Marilah kita buat pekerjaannya sebagai pekerjaan kita. Bolehlah Elohim memberkati kenangaannya. Dan bolehlah Elohim memberkati negeri ini, dan dunia ini, yang ia cintai begitu besar.”

Shimon: Todah rabah, chaver yakar  (terima kasih, sobat yang terhormat)

Tamat.

Ulasan. Ini suatu kata penghormatan yang sangat bagus, bukan? Di rumah duka ini Obama menganjurkan setiap orang untuk memilih jalan damai, sebagaiman Shimon Peres, pemenang Nobel Peace, telah memilihnya. Lebih dari itu di rumah duka ini, Obama mengajak setiap kita untuk merenungkan Firman Elohim yang terambil dari kitab Torah: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu.” Ia mengutip dari Ulangan 30:19. Ayat ini adalah bagian dari kalimat penutup amanat nabi Musa kepada bangsanya, dimulai dari pasal 28 thema yang paling penting ”Berkat dan Kutuk. Kehidupan dan Kematian” sekaligus ini sebagai peringatan terakhir nabi Musa sebelum ia meletakkan jabatannya dan memberikannya kepada nabi Yoshua.

“Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta,” amsal raja Salomo ini sungguh indah dan benar. Pergi ke rumah duka membuat setiap orang yang tidak berpengalaman akan menjadi bijaksana dan dewasa dalam berpikir. Obama saat ia masih menjabat sebagai senator AS (2006), ia secara sinis megejek Yeshua Messiah dan isi Alkitab. Ia berkata saat itu,

”Ayat-ayat Kitab Suci yang mana sebaiknya memandu kebijakan publik kita?” ia memberi pernyataan dengan bentuk pertanyaan di depan para pendengarnya. “Sebaiknyakah kita pakai Imamat (Leviticus), yang menunjukkan perbudakan adalah OK dan memakan kerang adalah kekejian? Atau kita memakai Ulangan (Deuteronomy), yang menunjukkan rajam batu kepada anak-anakmu jika ia menyimpang dari iman. Atau sebaiknya kita hanya berpegang kepada Kotbah Di Bukit (kotbah Adonai Yeshua) – sebuah kalimat yang adalah sangat radikal yang itu diragukan bahwa Departemen Pertahanan kita bisa survive bila diterapkan. Jadi sebelum kita melanjutkan, mari sekarang baca Alkitab kita.”

Joseph Farah, kepala editor dari WND.com mengeritik Obama menghina Alkitab secara sengaja dan menginterpretasikan ayat-ayat itu secara salah. Lihat linknya di bawah.

”Orang berhikmat senang pergi ke rumah duka,” raja Salomo menyatakan. Mengapa? Sebab di rumah duka, kita akan disadarkan Elohim siapakah kita sesunggunya, debu yang akan kembali kepada debu, ketika nafas kehidupan kita dicabut keluar oleh Pencipta kita. Salomo yang terkenal bijak dan kaya raya, dan menjadi tidak terkendali oleh karena kejayaannya tersebut, pada masa tuanya ia sadar, dan ia menutup kitabnya ini dengan kalimat yang penuh hikmat: Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Elohim[4] dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Elohim akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat.”  (Pengkotbah 12:13-14).

Sumber: Full text of President Barack Obama’s eulogy for Shimon Peres

Baca juga: Full text of Benjamin Netanyahu’s eulogy for Shimon Peres

Link:

  1. Watch Obama mock Bible in 2006
  2. Barack Obama Mocking the Bible & Jesus for 3 Minutes

Foodnotes:

  • [1] Terambil dari Indonesia Terjemahan Baru (ITB), dan ayat-ayat seterusnya.
  • [2] Dikenal sebagai Operasi Entebbe. Suatu operasi militer terkenal dan menggemparkan dunia militer. bagaimana tentara Israel membebaskan bangsanya yang tersandera oleh kelompok terroris di negara Uganda yang tidak memiliki hubungan diplomatik. Uganda saat itu dipimpin oleh presiden Idi Amin.
  • [3] Ethiopia saat itu sedang mengalami kelaparan karena musim kering yang berkepanjangan. Pemerintah Israel melakukan operasi penerbangan rahasia ke Ethiopia membawa orang-orang Yahudi Ethiopia ke Israel.
  • [4] Kata Allah pada ayat ini telah diganti dengan ”Elohim.”

“Terlahir untuk memuliakan Adonai Yeshua Messiah dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa” – Joseph Hendry

Advertisements