Tags

, , , , ,

mayoritas-besar-parlemen-uni-eropa-menolak-turki-masuk-ue-2016Majelis Parlemen Eropa hari Kamis kemarin (24 November) telah memilih secara menyolok untuk setuju membekukan pembicaraan tentang keanggotaan Turki masuk Uni Eropa. 479 suara setuju memblok Turki, dan hanya 37 suara tidak setuju.

Alasan yang dipakai oleh para Parlemen UE kali ini adalah “ukuran penanganan yang tidak proporsi” (kata diplomasi untuk diktatorsip) pemerintah Turki Tayyip Erdogan telah ambil sejak usaha kudeta militer yang gagal. Dikatakan lebih dari 125.000 orang Turki berkaitan dengan kudeta militer Juli 2016 telah ditahan. Semua pihak (tentara, hakim, polisi, usahawan) yang dianggap berbahaya bagi Edorgan ditahan, termasuk orang-orang media dan para pemimpin partai politik pro-Kurdi dan kelompok pembela HAM. Tidak sedikit orang penting Turki yang melarikan diri mencari suaka politik ke negara-negara Barat.

Ini berarti lebih dari 50 tahun lamanya Turki dibuat murdur dan maju untuk menjadi anggota Uni Eropa. Setiap kali pembicaraan, Pemerintah UE selalu memiliki alasan untuk menahan Turki masuk menjadi anggota negara UE.

Penundaan keanggotaan ini diresponi oleh Pemerintah Turki secara serius: membuka pintu perbatasan negaranya agar pengungsi Timur Tengah kembali membanjiri negara-negara Uni Eropa, ”Jika kalian terus begini, gerbang-gerbang perbatasan ini akan ada dibuka,” Erdogan mengancam. Beberapa bulan lalu Pemerintah UE telah menyetujui membayar 6 juta Euro untuk permintaan Turki berhenti mengirim pengungsi masuk UE.[1]

Mayoritas masyarakat anggota UE-25 menolak Turki untuk masuk, di Austria, Perancis dan Jerman penolakan mencapai 70% atau lebih, laporan 2006 berkata.[2]

Adakah alasan yang mendasar dari Pemerintah UE menahan Turki yang getol untuk bergabung, sementara negara-negara bekas anggota Federasi Persatuan Russia yang baru saja merdeka telah diterima?

Mungkin pernyataan Presiden Uni Eropa Herman van Rompuy bisa membuat kita mengerti alasan mengapa Turki dijegal untuk menjadi anggota negara Uni Eropa.

Pada suatu pertanyaan tentang keanggotaan Turki pada UE, ia menyatakan: ”Itu adalah masalah fakta bahwa nilai-nilai universal yang mendorong dalam Eropa, dan yang adalah juga nilai-nilai fundamental Kristianiti, akanlah hilang kedinamisannya dengan masuknya sebuah negara Islam yang besar seperti Turki.”

 Footnotes:

  1. Erdogan threatens to open borders after European Parliament vote
  2. Is Turkey likely to join the EU?

“Terlahir untuk memuliakan Adonai Yeshua Messiah dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa” – Joseph Hendry

Advertisements