Tags

, , , , , ,

hasil-akhir-pemilihan-presiden-as-2016-new-york-times

D. Trump menang – Hasil Pemilu President AS 2016

Pemilihan calon Presiden AS 2016 antara Hillary Clinton lawan Donald Trump dicatat sebagai pemilihan Presiden AS terpanas dalam sejarah Amerika Serikat.

Latar belakang. Hillary seorang Sarjana Hukum memiliki perjalanan panjang dalam dunia politik, baik sebagai istri gubernur (Januari 79 – Desember 1992), istri presiden (Januari 93 – Januari 01), Seketaris Negara AS (Januari 09 – Febuari 2013), Dan terakhir calon terpilih dari Partai Demokrat untuk President AS (2016). Ia dan suami juga pendiri yayasan belas kasihan. Semua ini membuat ia mengenal orang-orang penting dan kaya raya di dunia termasuk kelompok Yahudi maupun Arab. Hillary memiliki banyak hal yang memungkinkan dia akan jadi pemenang: Presiden Obama dan istrinya ikut kampanye, banyak organisasi dan perusahaan besar memback-up dirinya, di atas itu media raksasa, yang merupakan “mesin pengendali opini” telah bekerja keras untuk partai Demokrat menang melanjutkan 8 tahun memerintah di AS.

Lawannya Donald Trump sama sekali bukan orang politik, jadi gubernur saja belum pernah. Gaya bicaranya sama sekali beda dan bahkan berlawanan dengan orang dari dunia politik, dan terkesan sangat kasar. Namun ia seorang usahawan property yang sangat berhasil. Di belakang Trump hanyalah sekelompok media kecil – namun bekerja tidak pernah letih – menangkis & menyerang balik berita lawannya.

Indonesia dan AS memiliki beberapa kesamaan yang vital; termasuk lima negara besar dalam jumlah populasi, suku bangsa yang beraneka ragam dan agama, dan AS mempengaruhi barometer politik dunia, dan Indonesia mempengaruhi Asia Tenggara. Karena itu saya yakin kita bisa belajar sesuatu dari kondisi politik dan kebijakan AS untuk kemajuan dan kebaikan bangsa dan negara Indonesia.

Ujung tombak kubu Hillary & Partai Demokratnya. Seminggu sebelum hari pemungutan suara, media-media terkemuka di dalam AS,  seperti CNN, Washington Post, Fox News yang selalu memdukung Hillary menyatakan bahwa menurut survei mereka Hillary tetap memimpin dalam pra-pengumpulan suara. Dan media internasional menggaungkan laporan mereka.

Slogan dan moto Clinton. Moto-moto kampanye Hillary bertemakan pembela dan pemersatu semua ras dan pembela hak-hak wanita dan saatnya AS memiliki presiden wanita – yang sepanjang sejarah AS semuanya adalah pria. Dan ini nampak memikat dan cocok bagi generasi masa kini penduduk AS yang haus untuk mendengar hal-hal yang bernuansa demokrasi: hak asasi pribadi, kebebasan, perlindungan sosial (ekses untuk mendapat makanan, pelayanan kesehatan, rumah semurah mungkin).

Ditambah dengan bantuan langsung orang terkemuka di panggung kampanye dan Media raksasa AS, usaha Hillary memojokkan saingannya nampak seperti ”badai besar sedang menerpa Donald Trump.” Kubu Hillary memberi gambaran kepada masyarakat AS dan dunia bahwa Donald Trump adalah seorang “White Supermacy” (rasis, anti-imigran, Nazi, anti-Yahudi), anti-Islam, berbahaya bagi wanita (pelecehan sex); semua ini membanjiri media AS maupun dunia. Ini beberapa moto dari Hillary:

  • Lebih kuat bersama (Stronger Together); mempersatukan semua warna kulit (Putih, Yahudi, Amerika Latin, Afrika) dan agama, kelompok LGBT
  • Hillary Untuk Amerika (Hillary For America)
  • Berjuang Untuk Kita (Fighting for us)
  • Saya Bersama Dia (wanita) (I’m With Her); memakai jenis kelamin untuk menjadikan ia sebagai presiden wanita pertama, sekaligus pembela hak wanita dan pada saat bersamaan menyerang Trump yang media dari kubu Partai Demokrat melabelkan Trump sebagai “pemangsa wanita.”
  • Kasih Trump Benci (Love Trump Hate); mencoba memberi kesan bahwa Hillary mengasihi semua ras, dan lawannya, Trump, orang yang rasis. Nampak cocok untuk imigran Amerika Latin dan Asia, orang hitam Amerika.

Slogan Clinton: “Trump ‘secara tempramen tidak cocok’ untuk jadi presiden.”

Ujung tombak kubu Trump & Partai Republik

Trump yang bukan orang politik, dia bicara tanpa diplomasi: apa adanya dan langsung. Moto yang dipakai:

  • Buat Amerika Hebat Kembali! (Make America Great Again!); mengembalikan kejayaan Amerika: ekonomi, moral, stabilitas dan politik yang telah jatuh secara drastis selama 8 tahun di bawah pemerintahan Partai Demokrat.
  • Dirikan Tembok! (Build the Wall!); menahan arus imigran gelap dari Meksiko.

Pernyataan yang sering ia katakan: ”Melarang Muslim radikal masuk ke AS” dan memperingatkan para pendengarnya  bahwa jalannya hasil Pemilu 2016 “benar-benar ada diatur” baik di tempat-tempat pemungutan suara dan melalui media yang tidak jujur. Sehinga ia berkata, “Kita sedang memerangi sebuah Institusi yang bengkok (korup).” Calon WaPres, Mike Pence kepada NBC pada program “NBC’s Meet the Press” berkata bahwa rakyat Amerika “telah cape dengan bias yang terang-terangan dalam media nasional. (16 Okt). US election 2016: Trump says election ‘rigged at polling places’ (BBC). Trump mengaktifkan para pendukungnya:

“Kalian harus pergi keluar, dan kalian harus menjangkau teman-teman kalian, dan kalian harus menjangkau semua orang yang kalian tahu, dan kalian harus mengawasi bilik-bilik pemungutan suara karena saya mendengar terlalu banyak cerita tentang Pennsylvania, daerah-daerah tertentu.” Dan menandaskan, “Kita tidak bisa membiarkan mereka lewat begitu saja dengan hal ini, rekan-rekan.” Hal ini yang membuat kubu Trump kerja keras, bahkan dihari terakhir kampanye Trumpsendiri terbang dari satu tempat ke tempat lain untuk menarik lebih banyak suara.  Trump Says Polling-Place Cheating Is Leading to ‘Rigged’ Election  (bloomberg.com).

Hasil Pemilihan Presiden AS 2016 & analisa kekalahan Clinton dan Demokrat

Selasa malam, tanggal 8 November 2016, Hillary Clinton ternyata kalah cukup telek. Hasil akhir, tanggal 29 November Trump mengumpulkan suara 306 electoral college, sementara Hillary hanya 232. Siapa yang mendapat lebih dari 270 (dari total 535), ia menjadi presiden,  Angka 535 datang dari 435 jumlah Perwakilan negara, 100 Senator dan 3 pemiih diberikan untuk Distrik Columbia.

Koran the New York Times menyebut kenyataan ini: “hasil yang mengejutkan.” Koran ini sebelumnya percaya bahwa “Hillary Clinton memiliki 85% kesempatan untuk menang.” Hillary mengumpulkan sekitar dua juta lebih suara rakyat dibanding Donald Trump. Inipun, menurut Trump, ia akan tetap keluar sebagai pemenang jika pemungut suara yang tidak sah tidak dihitung.

Mengapa Hillary Clinton yang banyak pengalaman di dunia politik luar dan dalam negeri dan didukung oleh banyak badan organisasi politik dan media raksasa bisa kalah cukup telek oleh lawannya yang sama sekali tidak tahu dunia politik?

Ini analisa saya penyebab kekalahan Clinton dan Demokrat. Saya bagi menjadi dua bagian, kondisi AS yang actual dan factor media

1. Kondisi Negara AS

  • “Obama coalition.” Secara fundamental, kekalahan Clinton atas Trump adalah karena Clinton hendak melanjutkan kebijakan Partai Demokrat yang dipimpin oleh Baraq Obama selama 8 tahun berturut-turut dan dukungan erat Obama dan isteri selama kampanye. Obama coalition menjatuhkan Hillary dan bukan sebaliknya.
  • Presiden Obama, di mata mayoritas orang AS (yang bukan imigran) adalah presiden yang gagal di dalam banyak hal yang diperlukan AS. Argumen mereka: “jika Clinton menang kegagalan AS akan berlanjut.” Ini adalah pembakar utama dari kerja keras pendukung Trump.
  • Faham Sosialis Demokrat. Mayoritas kelas menengah ke atas AS merosot drastis selama 8 tahun di bawah kebijakan ekonomi dan bisnis Partai Demokrat. Program ”Obama Care” dikritik bahkan oleh Gubernur Jakarta Basuki: ”Pemerintah bukan badan Sosial, tetapi Keadilan Sosial!” Sosialisme (ketergantungan pada pemerintah) adalah mesin dari Faham Komunis- the outcome is only and only one: to control the mass for the Party’s goals; kelemahannya: pemborosan uang dan membunuh kreativitas dan bisnis. Ujungnya kemiskinan dan dictatorship. Ini bertentangan dengan prinsip hidup Orang kulit putih Amerika dan Kristen: “kebebasan membawa kemajuan dan kemakmuran.” Ketika ada orang seperti Trump “Make America great again!” maka itu “big YES” bagi mereka.
  • Politik Luar Negeri AS. Kebijakan Gedung Putih di bawah Demokrat bukan hanya merugikan ekonomi dan keamanan nasional AS, lebih parah dari itu adalah citra AS sebagai negara Super Power dan Polisi Internasional turun. Tanpa malu-malu mereka memuji Presiden Russia Vladimir Putin – khususnya dalam menangani Perang Syria dan “memerangi para terrorist.”
  • Nilai-nilai moral & keagamaan. Mayoritas masyarakat AS adalah Kristen Injili (Pentakosta, Protestan) dan Roma Katolik. Pergeseran nilai-nilai Kristianiti di segala bidang kehidupan, pendidikan, sosial budaya dirasakan sudah keterlaluan: murid SD telah dicekoki ”homosex adalah natural,” Toilet sekolah dan kampus haruslah boleh dipakai oleh kaum LGBT; militer AS yang sangat terkenal baik dan ketat juga terguncang dengan kebijakan toleransi LGBT pemerintah ”don’t ask don’t tell.” Kaum Homosex (gay dan lesbian) hanyalah sekitar 2%, namun hak mereka mempersulit hak pribadi kaum beragama, ditambah adanya curiculum pelajaran bahasa Arab. Hal-hal ini begitu menyolok sehingga Kristen nominal sekalipun tersadar dari tidur rohaninya.
  • “Black Life Matter.” Orang-orang Negro Amerika kelas menengah ke atas menyadari bahwa mereka hanya dimanfaatkan oleh Partai Demokrat untuk memberi suara bagi Obama (2x). Hillary terbukti anti-Negro (ada videonya), klinik-klinik aborsi didirikan umumnya dipemukiman Negro. Gedung Putih di bawah Obama menurut President persatuan para Pendeta Orang Afrika-Amerika adalah: ”Presiden terburuk sepanjang hidup saya.”
  • Keamanan dalam negara. Imigran gelap yang semakin tidak terkendali. Kantong-kantong platihan radikal Islam bertumbuhan, lihat The Third Jihad. 8 tahun terakhir imigran dari selatan, perdagangan obat terlarang dan terrorisme memasuki AS semakin nyata. Itulah sebabnya Trump berkata: ”Dirikan tembok!” dan “larang Muslim radikal masuk AS.”
  • Wikileak membocorkan ribuan email Hillary Clinton. ”Hillary adalah penghubung jaringan utama antara badan intelegen AS, pemerintah Qatar dan Saudi serta organisasi Negara Islam (IS / ISIS / ISIL / Daesh),” pendiri Wikileak berkata, “penjualan senjata menjadi double sejak Hillary menjabat kursi Seketaris Negara AS.” Pembocoran ini yang muncul seminggu terakhir sebelum Hari Pemungutan suara membuat ”badai besar” di kubu Trump pindah ke kubu Clinton dengan kekuatan yang jauh lebih kuat dari apa yang mereka tabur ke Trump. Sebuah pepatah politik berkata ”menabur benih menuai badai,” ya itulah tepatnya yang terjadi pada kubu Demokrat yang diwakili oleh Clinton dan Presiden Obama.

Berikut ini kesimpulan dari kubu Demokrat, bagaimana mereka melihat kekalahan mereka:

”Jadi, mengapa Clinton kalah? Chris Cillizza, reporter Washington Post bertanya pada akhir artikelnya One of Hillary Clinton’s top aides nailed exactly why she lost.  Chris menyimpulkan analisa Mandy Grunwald, konsultan bantuan bagi Hillary Clinton, dengan kalimat, “Karena tidak ada yang mengerti betapa banyak orang ingin perubahan dan seberapa besar risiko mereka bersedia mengambil untuk menempatkan seorang di luar sistim politik ke Gedung Putih.”

2. Faktor Media

  • Pemberitaan tentang hebatnya kubu Clinton dan Partainya menghasilkan arogan dan meremehkan kekuatan musuh. “Itu adalah kesombongan, kesombongan bahwa mereka akan menang. Bahwa inilah yang semuanya dibungkus,” seorang senior lapangan Demokrat berkata setelah kekalahan yang memalukan tersebut. The Clinton Campaign Was Undone By Its Own Neglect And A Touch Of Arrogance, Staffers Say
  • Bias Media sayap kiri (Liberal) terbongkar. Di atas saya menulis bahwa Media raksasa AS mendukung Clinton. Tuduhan mereka bahwa Trump adalah orang “White Supremacy” atau “alt-right” dan anti-Yahudi ternyata panah-panah berapi tersebut menyerang balik kubu Clinton. Terlebih lagi setelah memberi bukti adanya dukungan organisasi Ku Klux Klan (KKK) atas Trump; pendukung Trump membuktikan bahwa KKK adalah karya Partai Demokrasi untuk merusak citra Partai Republik. Trump menolak langsung KKK dan organisasi “white supremacy” lainnya untuk mendukung dirinya.
  • Bias berita soal Imigran Latino. Benar Trump ingin menahan masuknya imigran gelap via Meksiko, namun membuang anak kalimat “penyelundup dan diler NARKOBA” plus banyaknya karyawan Trump yang Latino semakin menyadarkan orang Amerika betapa tidak bisa dipercayanya berita Media raksasa.
  • Fakta yang dikeluarga oleh media pro-Trump meruntuhkan semua moto Hillary sebagai “pemersatu semua ras” ternyata ia lebih rasis dari Trump soal Latino saat Hillary vs Obama 2012 maupun masalah “Black Life Metter.”

Di sini kita bisa simpulkan dan belajar beberapa hal penting:

“There are none so blind, as those who don’t want to see.”

  • Kursi pemerintahan tidak selamanya bisa diraih oleh selogan dan kampanye yang hebat dan bagus, tetapi buah perbuatan.
  • Slogan “membela ras” dan “membela agama” akanlah menjadi bumerang yang menyakitkan jika dalam pelaksanaannya ternyata hampa / janji kosong belaka, apalagi jika itu diteriakan terlalu sering dan dalam waktu yang terlalu panjang. “Kita semua telah dibutakan, dan bahkan pada akhirnya, kita telah dibutakan oleh serangkaian bias kita miliki sendiri,” Paul Maslin, seorang pengerak partai Demokrat mengomentari kekalahan partainya.
  • Membesar-besarkan kesalahan lawan politik dimuka umum, sementara kesalahan sendiri yang segudang belum dibenahi hanyalah menghasilkan malu dan cemooh bagi diri sendiri.
  • Dusta atau kebohongan suatu hari akan terbongkar, sebaik apapun itu disembunyikan dan ditutupi. President terkenal Abraham Lincoln, yang juga adalah hakim terkenal di AS memperingatkan para lawan politiknya: “You can fool all of the people some of the time, You can fool some of the people all the time, But you can’t fool all of the people all of the time!”Abraham Lincoln
  • Dimasa kesukaran, mayoritas orang akanlah memilih kehidupan yang terbatas daripada Kebebasan yang tanpa batas; memilih untuk bertahan hidup daripada kekayaan dan popularitas.

Beberapa ini nasehat Alkitab untuk setiap kita khususnya para pemimpin elit negara dan pemimpin agama di Indonesia:

  • Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas. (Amsal 22:1, ITB)
  • Nama yang harum lebih baik dari pada minyak yang mahal, dan hari kematian lebih baik dari pada hari kelahiran. (Pengkotbah 7:1, ITB)
  • Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat. (Matius 5:37, ITB)
  • Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. (1 Timotius 4:12, ITB)
  • Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu. Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu. (1 Petrus 5:3-4, ITB)

Kiranya Elohim Yang Mahapengasih dan Mahakuasa memberkati bangsa dan negara Republik Indonesia!

Baca juga:

Bacaan yang berkait:

 “Terlahir untuk memuliakan Adonai Yeshua Messiah dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa” – Joseph Hendry

Advertisements