Tags

, , , , , , ,

perang-mediaSetelah kemenangan Donald Trump di Pemilu Presiden Amerika periode 2017-2021, Media Konservativ yang mewakili Partai Rebublik AS nyata sekali mulai menyerang Media Raksasa (Mainstream Media) (MR/MSM) yang dikuasai oleh kelompok Liberal yang mendukung Obama dan Clinton.

Ideologi di balik berita media Amerika. Delapan tahun (2008-2016) Gedung Putih di bawah Partai Demokrat (PD) (Presiden Baraq H. Obama), Pemerintah Amerika membawa rakyat ke ”jalur kiri” atau ”liberal;” mempromosikan aborsi, anti-senjata api bagi rakyat, gaya hidup LGBT, gerbang terbuka untuk imigran Latin dan Timur Tengah, kontrol pemerintah yang lebih besar atas rakyat dan menghapus setiap tradisi Amerika yang berkaitan dengan Kristianiti seperti Natal.

Sementara Partai Republik (PR) Amerika, dipanggil sebagai ”jalur kanan” atau ”konservativ” melihat semua yang dipromosikan oleh PD tidak sesuai dengan nilai-nilai ”konservativ” Amerika. Jalurnya adalah: pro-life (anti-aborsi), nasionalisme, kehidupan sex yang alamiah, pemilikan senjata api. Kubu Konservativ Amerika, yang merasa hak berbicara dan opini mereka ditekan di bawah pemerintahan kubu Liberal, sekarang balas menyerang. Contoh melalui Lagu Natal ini, telah lebih 5 juta ditonton sejak 1 Desember : Hilarious Trump Christmas Parody “It’s The Most Wonderful Time in 8 Years”

Sering kali kata Media Raksasa atau MSM dianalogikan sama dengan Media Liberal, kususnya di Amerika Serikat. Gubernur Alaska Sarah Palin menyebut MSM dengan nama Lamestream Media (Media Alur-lumpuh) di tahun 2009 karena memberi berita-berita yang salah (misrepresentation) tentang gerakan Partai politik diman ia terlibat. Media Raksasa (Mainstream Media (MSM)) Amerika yang umumnya dilabelkan oleh kubu Konservativ sebagai Media Liberal adalah CBS, ABC, Fox News, NBC, CNN, NPR, PBS, AP, New York Times, Washington Post, USA Today. Menurut Wikipedia.com, Tahun 1983, 90% media AS dikuasai oleh 50 perusahaan; saat ini, 90% dikuasai oleh hanya 6 perusahaan: Comcast (NBC, CNBC, MSNBC, dsb), The Walt Disney Company (ABC TV Network, dsb), News Corporation (Fox, NY Post, WS Journal, dsb), Time Warner (CNN), Viacom (MTV) dan CBS Corporation. Untuk lengkapnya lihat di sini: Mainstream media. Laporan yang sama mengatakan poll Gallup 2012 orang Amerika tidak percaya pada MSM lebih tinggi dari sebelumnya, dimana 60% berkata mereka ada sedikit atau tidak percaya pada media besar dalam melaporkan berita-berita secara penuh, tepat dan adil. Tahun 2016, Google dan Facebook juga mulai diawasi, laporan menulis “Orang-orang Amerika khususnya marah kepada Facebook dan Google yang memuat jumlah berita bohong (fake news) yang cukup banyak tentang pemilihan presiden 2016.”

Pukulan kubu Media Konservativ atas Media Liberal Amerika begitu nyata dan keras sekali setelah Donald Trump menang pemilu, sehingga banyak reporter dari Media Liberal mengakuinya terang-terangan. New York Times tentang koran The Enid News & Eagle  (ENE) yang mendukung Hillary Clinton semasa kampanye, pada judul artikelnya “Sebuah Koran Oklahoma mendukung Clinton. Belumlah diampuni.” NYT melaporkan sejumlah pelanggan ENE berhenti berlangganan koran tersebut dan sampai saat ini koran tersebut kurang diminati.

ENE menulis, ”Trump tidak memiliki keahlian, pengalaman atau tempramen untuk menguasai jabatan. Untuk para pemilih, Clinton adalah satu-satunay pilihan yang masuk akal,” menurut Breitbart.com (banon), pernyataan koran Enid News ini telah membuat kehilangan 162 pelanggan (1,6%) dan sejumlah kerugian pemasukan dari bidang iklan. NYT juga melaporkan hal yang sama terjadi pada The Star-Telegram, ”Katakan  Tidak kepada Trump,” pada terbitan Oktobernya, mengakibatkan lebih 100 pelanggan membatalkan kontrak berlangganan.

Banyaknya orang-orang Amerika dari kubu Liberal setela era pemilu November 2016 mengadakan serangkaian aksi-aksi anti-Trump dengan tindakan ”diserang oleh pendukung Trump,” bahkan seorang muslim Afrika Amerika membakar mesjidnya sendiri pada hari Natal lalu melapor ke Media dan Polisi. Hal-hal seperti ini telah membuat Media Konservativ dan pendukung Trump semakin mudah melabelkan berita-berita dari Media Liberal atau MSM sebagai ”Fake News” (Berita-berita palsu). Saya mencoba mencari kata “fake news” pada kolom cari di Breitbart.com, hasilnya ada 229.000 artikel yang berkait dengan kata tersebut (28 Desember 2016)

Dua berita di antaranya:

Komentar dari seorang “konservativ” pada artikel “Washington Times …”, @Changing Times:

The globalist invented terms, “hate speech”, “political correctness”, racist, homophobic, transgender-phobic, xenophobic, white supremacist, are used to INTIMIDATE and SILENCE opposition. It is the communist way of censoring thought and speech. The globalists must fear Bannon or they would not be attacking him. That means Bannon is the right man for the job.

WND.com adalah sebuah konservativ media Amerika lainnya yang terkenal. Clik di sini untuk melihat laporan “fake news” yang dikumpulkan WND.

Perang Media di Amerika ini mengingatkan saya perkataan peringatan dari Presiden Abraham Lincoln, pemimpin yang termasuk 10 President terbaik Amerika Serikat. Tentang pentingnya kebebasan berpendapat ia berkata:

America will never be destroyed from the outside. If we falter and lose our freedoms, it will be because we destroyed ourselves – Abraham Lincoln

Dan tentang kebohongan yang pasti suatu hari dan tempat akan terbongkar:

You can fool all the people some of the time, and some of the people all the time, but you cannot fool all the people all the time – Abraham Lincoln

“Terlahir untuk memuliakan Adonai Yeshua Messiah dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa” – Joseph Hendry

Advertisements