Tags

, , , , , ,

polisi-pakistan-menangkap-perveen-bibi-pelaku-pembunuhan-demi-kehormatan

Polisi menangkap Parveen Bibi

Lahore, Pakistan. Januari 2017. Untuk pertama kalinya di negara Pakistan dimana pelaku “pembunuhan demi kehormatan” (honor killing) mendapat hukuman mati dan penjara seumur hidup.

Parveen Bibi mengakui di pengadilan Lahore bahwa ia telah membunuh putrinya, Zeenat Rafiq (18 tahun) pada Juni 2016, karena putrinya ini telah memutuskan untuk menikah dengan pria yang di luar kehendak keluarga. Ibu ini membakar purtinya hidup-hidup; menuangkan minyak tanah ke tubuh Zeenat dan menyulut api.

Anees Ahmed, putranya, mendapat hukuman seumur hidup untuk membantu aksi brutal ibunya. Keduanya memukuli Zeenat sebelum ibunya membakar gadis malang ini.

Saksi-saksi mata berkata ibu ini dengan bangga dengan perbuatannya, ibu ini lari keluar rumah dan berteriak kepada tetangganya bahwa itu adalah ”pembunuhan demi kehormatan.”

Karo-kari, istilah Pakistan untuk ”pembunuhan demi kehormatan” memiliki arti sebagai sebuah tindakan membunuh, yang mana pribadi tersebut dibunuh oleh karena ia telah melakukan perbuatan yang imoral: ini termasuk, jika pribadi tersebut telah berhubungan badan sebelum menikah, diperkosa dan menolak menikahi pria yang ditentukan oleh orang tua. Korban pria umumnya dibunuh oleh pihak keluarga wanita.

Kasus Zeenat.  Gadis ini melarikan diri dari rumahnya pada bulan Mei 2016 agar bisa menikah dengan pria yang ia suka, Hassan Khan. Ia tinggal dua hari di keluarga Hassan.

Hassan berkata, Zeenat tahu bahwa ia akan dibunuh oleh keluarganya jika pulang. Namun kedua pihak orang tua setuju untuk Zeenat pulang, dan gadis ini dijanjikan oleh orang tuanya untuk tidak dihukum dan pernikahan resmi segera diatur. Namun segera setelah Zeenat pulang ke rumah, hukuman mati dari keluarganya sendiri menanti dirinya.

Ibu ini yang semula bangga dengan perbuatan sadisnya, menjadi terkejut ketika ia ditangkap polisi untuk diadili. Di sini, pelaku menolak telah membunuh putrinya, ia berkata  bahwa putrinya telah melakukan bunuh diri sebab pihak keluarga menolak pernikahannya. Namun saksi-saksi mata meneguhkan aksi karo-kari ibu ini.

Komisi HAM Pakistan mencatat sedikitnya ada 1276 peristiwa ”pembunuhan demi kehormatan” dari Pebuari 2015 sampai Pebuari 2016.

Para organisasi HAM memiliki data yang berbeda: laporan 2011, telah ada 720 kasus sejenis di Pakistan dimana 605 wanita dan 115 pria tewas, sementara Komisi HAM Pakistan mencatat 791 untuk selama tahun 2010 tersebut. Dan Amnesty International mencatat 960 wanita dibunuh, belum termasuk pria. Data ini diambil dari Wikipedia.org Honor killing in Pakistan

Sejak kejadian pembunuhan Qandeel Baloch, tokoh wanita sosial media, bulan Oktober 2015, tiga bulan setelah Qandeel dibunuh oleh saudara kandungnya, parlemen Pakistan mengeluarkan hukum baru yang mengijinkan hakim untuk menghukum para pelaku pembunuhan demi kehormatan (kora-kari). Kasus ”karo-kari” di Pakistan telah menjadi masalah besar seperti kasus ”blasphemy law” (hukum penghujatan agama Islam), dimana pelaku dengan mudah menghabiskan nyawa orang lain atas nama ”demi kehormatan agama Islam” yang mereka tidak sukai atau dianggap menentang kehendak mereka dan kelompok mayoritas.

Keputusan hakim mengukum berat Parveen Bibi dan putranya nampak adanya hembusan angin baru di awal 2017 di negara Pakistan, dimana penduduknya lebih dari 95 Muslim dan undang-undang negaranya adalah Hukum Islam.

Sebuah ayat Alkitab yang bagus untuk kita semua mengingatnya:

“Anak-anak, patuhilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena itulah yang benar. Hormatilah ayah dan ibumu, itu yang merupakan perintah utama dengan suatu janji agar kamu menjadi baik dan dapat berumumr panjang di atas bumi. Dan para ayah, janganlah bangkitkan amarah anak-anakmu, tetapi asuhlah mereka di dalam didikan dan nasehat Tuhan (Efesus 6:1-4)

“Terlahir untuk memuliakan Adonai Yeshua Messiah dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa” – Joseph Hendry

Advertisements