Tags

, , , ,

And Jesus increased in wisdom and stature, and in favour with God and man. (Luke 2:52, KJV)

karikatur-pos-pengaduan-bicara-bebas

Karikatur “Bicara Bebas & Benci”

Kita hidup di dalam suatu budaya yang membingungkan, budaya “koktail globalisasi-hak pribadi” yaitu budaya dimana seorang tergila-gila dengan kehidupan modern dan global (interaksi dengan berbagai bangsa sedunia tanpa batas wilayah), namun mendewakan hak-hak pribadinya sendiri. Bagaimana Anda dan saya bisa hidup dengan benar di hadapan Pencipta kita dan tetap menjaga perdamaian sejati dengan setiap orang di sekitar kita? Tulisan ini mencoba menolong Anda “berjalan pada jalur yang benar dan aman.” Ayat Alkitab diambil dari Indonesia Terjemahan Baru.

Arti dan aplikasi dari Bicara bebas (free speech) yang umum diterima masyarakat adalah hak seseorang untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran tentang orang lain, dalam hal ini adalah mengeritik. Bicara benci (hate speech) adalah hak seseorang untuk menjaga dirinya TIDAK dilukai dan dihina oleh perkataan orang lain. Pemikiran ini tepat seperti ungkapan Joshua P. Davis, musikus dikenal sebagai “DJ Shadow,” ia menulis, I don’t hate what I love. I love what I love and I hate what I hate. Pertanyaannya bagaimana dengan “others”?

I. Komentar umum. Tanggapan masalah bicara bebas dan benci ini bisa kita temukan di media internet – wadah untuk pencurahan perasaan dan pikiran manusia abad 21.

Seorang yang setuju Bicara bebas menyatakan:

  • ”Bicara bebas bukanlah bicara bebas jika dibatasi!”
  • “Free speech is meaningless unless it tolerates the speech that we hate.” Henry Hyde (1924-2007), ahli hukum dan polikus AS
  • “College campuses have become fascist colonies of anti-American hate speech, hypersensitivity, speech codes, banded words and prohibited scientific inquiry.” Ann Coulter (1961- saat ini), ahli hukum dan politikus AS. Tulisan-tulisannya bisa dilihat di sini
  • ”Kebebasan ini termasuk mengeritik agama apapun.”

Pihak yang tidak ingin dihina dan dikritik menyatakan,

  • “Bicara Benci bukanlah Bicara Bebas!”
  • “Agama itu suci dan bukan untuk dibicarakan apalagi dihina”
  • ”Kami menolak Kebebasan Berbicara yang melukai perasaan orang lain!”

7 pernyataan di atas memiliki unsur kebenaran, sekalipun tidak mutlak. Pertanyaannya adalah bagaimana semua itu bisa dipraktekkan tanpa seorangpun dirugikan; haknya tidak dibatasi pada sisi lain, orang tidak dilukai perasaannya?

Seorang ahli hukum dalam sebuah forum ”pengenalan budaya Barat bagi para pemimpin agama” berkata dihadapan sejumlah imigran yang masing-masing mewakili kelompok bangsa dan agama – menjawab pertanyaan: ”dimana batas kebebasan berbicara?” – ia berkata, Pengadilan!, Jika Anda tidak senang dengan pernyataan media, orang lain, bawa saja masalah tersebut ke pengadilan.” Dalam hati saya, ”Ya, itu mudah bagi orang berduit dan berkuasa. Bagaimana dengan orang awam dan minoritas!?”

Kita dapat lihat di sini adanya kebingungan dan konflik dalam masalah bicara bebas dan bicara benci – karena  dalam prakteknya – masing-masing ingin memakai standardnya sendiri untuk membela hak berbicara sekaligus melindungi dirinya sendiri dari hak bicara orang lain, dengan kata lain ia merasa berhak mengeritik orang lain, pada saat yang bersamaan menolak hak orang lain mengeritik dirinya.

Setiap orang – sesungguhnya menyadari – bahwa bicara bebas bisa berarti sebagai bicara benci, dan sebaliknya, tergantung di negara bagian dunia apa kita tinggal dan berada. Oleh karenanya kita memerlukan suatu standard ukuran kebebasan berbicara yang universal, khususnya ketika dan di dalam masyarakat umum. Kita tidak bisa memakai standard kita sendiri, sebab kita, setiap kita, adalah orang yang tidak sempurna, atau “orang berdosa” dan “keturunan orang berdosa, Adam” (istilah agama; lihat Alkitab 1 Yohanes 1:10, Roma 5:12)

Freedom of Speech is Not a Licence to abuse. It is a responsibility

Dunia, kita semua, perlu contoh hidup bagaimana seorang bisa hidup dan bicara bebas tanpa kebencian, teladan terbaik adalah tentunya Yeshua Messiah, Yesus Kristus. Ia adalah manusia yang diakui tidak bercacat moral dan tidak berdosa, bahkan ketika dicobai (Lihat Ibrani 4:14-15). Mari kita lihat bagaimana Yeshua memakai hak bicara-Nya, dan para nabi dan rasul-Nya mengajar tentang “berbicara

Then said Jesus to the Jews having believed him, “If ye remain in my word, ye are truly my disciples. And ye shall know the truth, and the truth shall make you free.” (John 8:31-32, SLT)

 

Baca juga:

II. Yeshua mendukung bicara bebas dan memberi aturan mainnya

1.  Jika itu berkaitan dengan kebenaran dan berita Kabar Baik atau Injil. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah.  (Matius 10:27). Matius menulis ini berkaitan dengan perkataan Yeshua “berita kebenaran yang Dia bawa dari Sorga, Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap.  (Markus 4:21-22). Jelas dan langsung, Yeshua memerintahkan kepada pengikut-Nya, bahwa Injil dan kebenaran (terang) harus diberitakan, bahkan secara terbuka!

  1. Asal kita siap menerapkarikatur-bicara-bebas-bukan-berarti-berkata-sembarangankan “hukum emas” (the Golden Rule) Firman YAHWEH ini.

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh Torah dan kitab para nabi(Matius 7:12).

Ini adalah bentuk lain dari ”hukum” mengasihi ke-dua: Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri(Mat. 22:39).

Hukum mengasihi ke-satu adalah kasih kita kepada YAHWEH, Elohim kita (ayat 36- 38).

  1. Asal kita bersedia menerima standard moral yang sama atas diri kita. “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.  (Mat. 7:1-2)

III. Bicara tegas dan kasar tidaklah selalu berarti bicara benci (hate speech)

Dalam diskusi masalah moral dan agama, sering kita melihat si pembicara memakai standard ganda. Ia secara terbuka mengkritik orang lain, bahkan menuduh perkara yang tidak dilakukan orang yang ia kritik; namun ketika lawannya membela diri, dan menunjuk kesalahan dirinya, orang ini langsung melabelkan perkataan lawannya ini sebagai “bicara benci,” dan mengelus dadanya sendiri, “kamu sudah melukai perasaan saya!” Alkitab mencatat perkataan kasar dan “melukai perasaan” tapi tidak tergolong “bicara benci.”

1. Yohanes Pembaptis; Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka:Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang?  (Matius 3:7). Ia adalah nabi, yang Yeshua labelkan sebagai “Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis” (Mat. 11:11). Di sini nabi ini menegur mereka dengan sangat keras menyebut mereka sebagai “keturunan ular beludak,” jenis ular padang pasir berbisa yang pintar menyembunyikan dirinya, masuk ke dalam pasir, lalu menyerang mangsanya dengan tiba-tiba. Nabi ini sudah penuh Roh Kudus sejak masih dalam kandungan, dan melihat langit terbuka, namun ia tidak ragu untuk menegur motifasi yang salah dari kelompok aliran agama tersebut, ia menuntut buah pertobatan mereka sebelum dibaptis olehnya. Itu terjadi di depan umum di tepi sungai Yordan.

2. Yeshua Messiah; Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka?  (Matius 23:33). Adonai Yeshua yang terkenal dengan belas kasihan dan kasih serta ajaran kasih, menegur para ahli Kitab Suci, orang Farisi yang merasa kelompok orang-orang suci dengan teguran yang bukan saja melukai perasaan mereka tetapi meruntuhkan harga diri mereka sebagai “panutan keagamaan bagi rakyat Israel.” Pasal yang cukup panjang ini, menguraikan kemunafikan mereka, Yeshua menegur mereka, “Celakalah kamu, … hai kamu orang-orang munafik.” Bukan sekali, dua dan tiga kali, tetapi delapan kali! Pada bagian akhir dari pasal ini, Yeshua bersedih hati menangisi (penduduk) Yerusalem yang akan menerima hukuman karena menolak Kabar Baik-Nya, “Yerusalem, Yerusalem, … Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu,

sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi.”  (Matius 23:37-38). Yeshua tidak benci kepada mereka!

Bacaan bagus:

There is a fine line between free speech and hate speech. Free speech encourages debate whereas hate speech incites violence.”Newton Lee, a Hongkong-American technocrat

karikatur-standard-ganda-orang-islam

Karikatur Standard Ganda

3. Membela diri dan mengkoreksi kesalahan orang lain tidaklah berarti bicara benci. Stefanus, seorang Yahudi yang penuh Roh Kudus, diaken bagi orang Yahudi yang berbahasa Yunani, diseret ke pengadilan agama dan saksi-saksi palsu dihadapkan: Lalu mereka menghasut beberapa orang untuk mengatakan: “Kami telah mendengar dia mengucapkan kata-kata hujat terhadap Musa dan Allah (Elohim).”  (Kis. 6:11). Tuduhan palsu dibuat karena semakin banyak orang berpindah dari sekte agama mereka ke ajaran Yeshua, bahkan “juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya” (Kis. 6:7). Pasal 7 adalah pembelaan Stefanus; ia membongkar kedegilan hati mereka melalui isi kitab-kitab para nabi. Dan ia tutup dengan teguran yang keras, Hai orang-orang yang keras kepala dan yang tidak bersunat hati dan telinga, kamu selalu menentang Roh Kudus, sama seperti nenek moyangmu, demikian juga kamu. Siapakah dari nabi-nabi yang tidak dianiaya oleh nenek moyangmu? Bahkan mereka membunuh orang-orang yang lebih dahulu memberitakan tentang kedatangan Orang Benar, yang sekarang telah kamu khianati dan kamu bunuh. Kamu telah menerima Torah yang disampaikan oleh malaikat-malaikat, akan tetapi kamu tidak menurutinya.”  (Kis. 7:51-53)

Teguran Stefanus bukanlah suatu perkataan kebencian, itu hanyalah penegakkan kebenaran yang telah dicoba disembunyikan dan dibengkokan atas nama ‘menghina kekudusan agama;’

Kejadian ini bukan di Amerika atau di sebuah negara Eropa, ini terjadi di Timur Tengah, hampir 2000 tahun yang lalu, jaman dahulu. Tidaklah heran apabila para anggota Mahkahmah Agama tersebut, 70 orang, “sangat tertusuk hati mereka,” Lukas menulis (ayat 54). Stefanus yang penuh dengan Roh Kudus bahkan dengan berani menyatakan kepada mereka – suatu yang mereka sangat benci – apa yang ia lihat saat itu dilangit, “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia (the Son of Man) berdiri di sebelah kanan Allah.” Stefanus dihukum rajam oleh mereka oleh karena semua perkataannya itu. Stefanus tidak benci mereka, saat dirajam ia berdoa, ”Ya Tuhan Yesus terimalah rohku.” Sementara hujan batu terus menimpa dirinya, ia berlutut dan berteriak, Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Dan dengan perkataan itu meninggallah ia.  (Kis. 7:60). i

Teguran Stefanus bukanlah suatu perkataan kebencian, itu hanyalah penegakkan kebenaran yang telah dicoba disembunyikan dan dibengkokan atas nama ‘menghina kekudusan agama;’ itulah sebabnya Bapa Sorgawi dan Yeshua Messiah, the Son of Man menghargai keberanian Stefanus dengan memberi penglihatan tersebut, bahkan Yeshua berdiri memberi salut.

Berbicara tentang Yeshua dan ajarannya, Messiah mengingatkan kita untuk tidak malu mengakui Pribadi-Nya, sebaliknya haruslah berani:

Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusiapun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus.”  (Mark 8:38)

Yeshua Messiah berkata di kitab Wahyu, tentang hari Pengadilan Terakhir, bahwa dari sejumlah orang-orang jahat yang akan masuk neraka, salah satunya adalah “orang-orang penakut.” (Wahyu 21:7-8)

IV. Peringatan!, Setiap perkataan kita akan dituntut Elohim di Hari Kiamat

Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.”  (Matius 12:36-37).

Ini adalah peringatan Yeshua yang sangat serius, Ia akan menjadi Hakim di Hari Kiamat atas setiap bangsa, terlepas agama dan keyakinan kita. YAHWEH, telah mempercayakan kuasa ini kepada Putra-Nya, Yeshua.

Itulah sebabnya rasul Paulus melalui Timotius, menasehati jemaat Efesus untuk berhenti disibukkan oleh cerita-cerita yang tidak berguna yang hanya menghasilkan omongan yang sia-sia. Paulus memberi kunci sukses berkomunikasi kepada anak rohaninya ini:

Tujuan (akhir) nasihat itu (Now the end of the commandment; KJV) ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas. Lihat 1 Timotius 1:3-7. Dan hal ini perlu dilakukan oleh Timotius dari dirinya sendiri, menjadi teladan (1 Tim 4:12),

V. Kesimpulan:

  • Firman YAHWEH mendukung penuh bicara bebas (free speech)
  • Kebenaran bukan hanya perlu dibicarakan, tetapi harus diproklamasikan secara terang-terangan, suka atau tidak suka. Itu adalah perintah Elohim demi keselamatan kita sendiri, famili, kerabat dekat, tetangga dan siapa pun.
  • Bicara bebas haruslah memakai standard yang sama; pengeritik siap juga dikritik
  • Ingatlah aturan Hukum Emas (the Golden Rule); jika Anda tidak siap menerima kritik, maka janganlah mengeritik, dan jika Anda ingin orang lain menghormati Anda, maka hormatilah orang lain
  • Kritik keras tidaklah selalu berarti “bicara benci” (hade speech); suatu bicara adalah bicara benci jika itu dimotivasi dari hati yang tidak murni dan bertujuan menimbulkan kekacauan dan kekerasan
  • Kemunafikan, standard ganda sering kali inti dari tuduhan ”bicara benci”
  • Teguran harusnya memiliki tujuan yang mulia dan muncul dari hati yang mulia dan murni

Artikel serupa yang bagus untuk dibaca:

“Terlahir untuk memuliakan Adonai Yeshua Messiah dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa” – Joseph Hendry

Advertisements