Tags

, , , , ,

imigran-muslim-timur-tengah-merusak-pagar-batas-negara-eropaSurvei 10.195 responden di 10 negara Eropa – Austria, Belgia, Britania Raya Perancis, Hungaria, Italia, Jerman, Perancis, Polandia dan Spanyol  Survei ini dilakukan oleh Chatham House Europe Programme bersama Kantar Public menunjukkan pikiran orang Eropa saat ini.

Survei dilakukan antara 12 Desember 2016 sampai 11 Januari 2017, diadakan sebelum Presiden AS, Donald Trump mengeluarkan keputusan menahan 7 negara mayoritas Islam dan sedang perang (Irak, Iran, Libia, Somalia, Sudan, Suriah dan Yemen) selama 90 hari masuk ke AS.

Data di bawah ini saya ambil dari sumbernya: What Do Europeans Think About Muslim Immigration?

Survei ini dilakukan dengan memberikan setiap responden sebuah pernyataan: “All further migration from mainly Muslim countries should be stopped” (Semua migrasi selanjutnya dari negara-negara terutama Muslim haruslah ada dihentikan). Mereka kemudian diberi tiga pilihan sejauh mana mereka setuju atau tidak setuju.

Hasilnya secara umum adalah seluruh dari 10 negara yang disurvei secara mayoritas menyatakan setuju; 55% setuju, 25% setuju dan tidak setuju (netral), dan 20% tidak setuju (N).

Rincian dimulai dari negara yang memiliki nilai setuju terbesar

NEGARA SETUJU (%) NETRAL TIDAK SETUJU
Polandia 71 19 9
Asutria 65 17 18
Hungaria 64 24 12
Belgia 64 21 15
Perancis 61 23 16
Yunani 58 22 20
Jerman 53 28 19
Italia 51 26 23
Britania Raya 47 30 23
Spanyol 41 26 32
TOTAL 55 25 20

Dari kelompok usia responden, survei menunjukan semakin ia berumur semakin mereka setuju dengan pernyataan survei “Semua migrasi selanjutnya dari negara-negara terutama Muslim haruslah ada dihentikan.” Diatas usia 60 (63%), Usia 45-59 (56%), Usia 30-44 (50%) dan Usia 18-29 (44%).

Semua responden dari latar belakang pendidikan juga setuju migrasi Muslim tersebut (54%); SMA ke bawah (59%), Mahasiswa (55%) dan untuk gelar Master ke atas (48%).

Menurut koran online Breitbart.com yang berpusat di London, hasil survei ini tidaklah mengejutkan sebab semakin banyaknya tindak kriminalitas dan terror yang dimotifasi oleh latar belakang agama, dan menulis, “Pemerintah telah dipaksa mengakui bahwa beberapa Muslim berdansa dan mengelu-elukan serangan-serangan terror di Brussels (Belgia) dan di Paris (Perancis).” Survey: Majority of Europeans In 10 Countries Want Halt to Muslim Migration

Masalah dan jalan keluar: Sepuluh tahun terakhir ini, orang-orang Eropa nampak jelas semakin tidak simpati kepada orang imigran yang berlatar agama Islam. Hal ini bisa dilihat dari semakin kuatnya partai-partai “konservatif” di berbagai negara Eropa, baik yang tergabung dalam Uni Eropa maupun yang tidak, seperti Russia dan Skandinavia. Slogan “Islamophobia” yang dipakai para pemimpin negara Eropa, dan juga di negara-negara Barat lainnya nampak sudah tidak mempan lagi untuk “menina-bobokan” (membuat tenang sehingga tertidur) orang Eropa, sebab memang bukti-bukti tindak kriminalitas dan aksi terror begitu banyak dan berkelanjutan. Pemecahan terbaik dan paling efektif saya pikir adalah pertama-tama haruslah dimulai dari orang imigran Muslim sendiri, lalu diikuti oleh pemerintah dan Gereja.

  • Para imam Muslim dan tokoh Muslim lainnya perlu untuk memakai pengaruh mereka untuk meredahkan masalah ini. Ke dalam komunitas Islam, mereka perlu lebih aktif mengajar para pemuda dan remaja mereka untuk bertoleransi hidup beragama di Barat, dan ke keluar komunitas, mereka dan umat Islam perlu membuktikan diri bahwa mereka menentang kekerasan dan diskriminasi yang dibangkitkan oleh pandangan agama Islam.
  • Para penguasa negara Barat, sudah saatnya kembali ke konsitusi negara mereka sendiri, menegakkan hukum tanpa pandang bulu dan tanpa takut dinilai masyarakat dunia luar. Tuduhan “rasis” dan “islamophia” akan sendirinya lenyap jika hukum (berdasarkan keadilan, perlindungan dan tanggung-jawab) ditempatkan di atas siapapun.
  • Pemerintah Eropa tidak akan bisa memecahkan masalah ini sendirian. Pemimpin Gereja dan umat Kristen perlu juga bertindak. Mereka perlu memberi contoh dan mengajar apa artinya “mengasihi sesama manusia” dan “toleransi yang sehat.” Pengalaman saya pribadi dan banyak pekerja Gereja yang terlibat langsung menolong para imigran Muslim dari negara-negara Timur Tengah dan Asia yang sedang berperang adalah banyak dari imigran ini telah memiliki pikiran yang salah tentang “orang Barat” dan “Gereja/ Kristen” sebelum masuk ke Eropa. Mereka berpikir “orang Kristen adalah orang Barat dan sebaliknya; jelas ini salah besar, jika pemikiran salah ini tidak diperbaiki maka janganlah heran mereka akan menjadi orang-orang Islam yang fanatik di Eropa. Jadi di sinilah tugas Gereja dan jemaatnya untuk merangkul mereka dan sekaligus menunjukkan “terang” yang sesungguhnya.

Ini adalah perkataan Adonai Yeshua Messiah yang selalu menghibur dan menguatkan saya, dan saya percaya ayat ini juga berguna bagi setiap Anda – khususnya yang hidup di garis depan konflik kehidupan, itu berbunyi:

“[T]etapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu. Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. (Injil Yohanes 14:26-27, ITB)

Elohim YAHWEH tidak hanya memberikan Roh-Nya (Roh Kudus) kepada siap yang ingin belajar kebenaran, lebih lagi Dia memberikan damai sejahtera sorgawi bagi kita yang hidup di bumi ini, sebab Dia tahu bahwa kita menghadapi banyak konflik. Bagian setiap kita hanyalah, minta kepada Dia yang telah menjanjikan kedua janji indah ini, sebab Yeshua berkata, “Minta, maka kamu akan diberi; cari, maka kamu akan mendapat; ketuk, maka pintu akan dibukakan.” dan Ia memberi jaminan, “Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.” (Matius 7:8)

Catatan Editor: Penulis adalah seorang Kristen Indonesia yang berdomisili di Eropa, dan aktiv bekerja menolong pengungsi Timur Tengah. Ia pernah belajar di Australia dan Amerika untuk bidang pertukaran budaya dan pengembangan masyarakat.

“Terlahir untuk memuliakan Adonai Yeshua Messiah dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa” – Joseph Hendry

Advertisements