Tags

, , , , , , , ,

Rasul Paulus: “Sebab aku tidak malu akan Injil Kristus (Messiah), karena Injil itu adalah kuasa Elohim untuk keselamatan bagi setiap orang yang percaya, baik pertama-tama bagi orang Yahudi, maupun bagi orang Yunani” (Roma 1:16)

Ruth dan mertua Yahudinya Naomi

Ruth dan Naomi

Ruth (Rut, bahasa Indonesia) adalah wanita suku Moab, namun namanya tercatat dalam kitab suci bangsa Israel Perjanjian Lama dan Baru. Alkitab hanya berisi dua kitab bertitelkan nama wanita: Esther dan Ruth.

Esther (Hadassah, nama aslinya) adalah gadis Yahudi yang hidup di negara pembuangan, yang kemudian terpilih menjadi ratu agung raja Medi-Parsi atau Iran saat ini. Melalui posisi sebagai ratu, ia dipakai Elohim untuk menyelamatkan bangsanya dari pembantaian masal di seluruh negara jajahan Medi-Parsi yang dirancang secara licik dan terencana oleh Haman (Perdana Menteri raja), seorang keturunan raja Agag orang Amalek, musuh berat bangsa Israel.[1] Di sini nampak bahwa Ruth telah melakukan suatu perkara yang luar biasa bagi bangsa Israel, sehingga orang asing ini (bukan keturunan dari Abraham-Ishak-Yakub) dimasukkan namanya di dalam Kitab Suci, dan Rasul Matius menyertakan nama wanita ini pada silsilah Adonai Yeshua.[2] Suatu posisi kehormatan yang luar biasa bukan?!

Kisah kehidupan Ruth ini singkat tapi padat dan sangat bernilai tinggi untuk setiap pembaca (entah Anda seorang Yahudi, Kristen atau apa pun kebangsaan Anda); Ruth telah menyenangkan hati YAHWEH, sehingga namanya dingat selamanya! Gereja-gereja bukan Yahudi (the Gentil’s Churchs; para jemaat Yeshua yang bukan dari keturunan Israel) karenanya perlu belajar bersikap seperti Ruth.

“Dan terjadilah pada masa memerintahnya hakim-hakim, bahwa ada kelaparan di negeri itu. Dan seorang lelaki dari Betlehem-Yehuda pergi untuk mengembara di padang Moab, ia dan istrinya dan kedua anak laki-lakinya. (Ruth 1:1). Mereka berasal dari kota Bethlehem-Efrata, di tanah Yehuda.

Bencana kelaparan adalah satu dari empat hukuman berat Elohim YAHWEH atas umat-Nya yang bercumbu dengan dosa dan tidak setia kepada Dia.[3] Alkitab berkata, sebab ”pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel. Setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.” (Hak. 21:25).[4] Akibatnya orang benar turut menderita, seperti Lot[5] dan Elimelekh ini. Elimelekh dan Naomi harus berimigrasi ke padang/tanah Moab, yakni negara (”tanah”) dari keturunan Lot.[6] Saya memperkirakan masa kesukaran ini terjadi seperti tertulis pada Hakim-hakim pasal 6; kemiskinan karena Elohim menyerahkan mereka kepada musuh mereka bangsa Median dan Amalek.

Elimelekh berarti ”Elohim adalah rajaku” dan Naomi nama singkatan (na-o-mi) berarti ”Elohim adalah kemakmuran” atau ”_ Kepuasan.” Kedua putra mereka lahir di masa yang sulit; putra pertama Maklon (”berpenyakitan”), lalu lahir yang kedua Kilyon (”terpakai” / ”habis”; mengandung arti: musnah perlahan-lahan/ decay).

Kitab Ruth bab pertama menceritakan getirnya kehidupan Elimelekh-Naomi, sebuah keluarga dari garis keturunan Yehuda, dari kota Bethlehem (artinya Rumah Roti).

Setiba di Moab, Naomi ditinggal mati suaminya. Kedua putra mereka lalu menikahi wanita Moab; Orpa dan Ruth. 10 tahun di Moab, kedua putra Naomi meninggal, tanpa memberikan cucu. Hidup Naomi begitu sulit, pada jaman itu di Timur Tengah tulang punggung ekonomi keluarga adalah suami atau anak laki-laki (ini persis seperti di banyak negara Islam sampai saat ini) ditambah hidup di negara asing jauh dari sanak-keluarga. Sehingga Naomi berkata: “Jangan panggil aku Naomi, panggilah aku Mara (“pahit”), … Aku telah pergi selagi berkelimpahan, tetapi YAHWEH telah memulangkan aku dengan (tangan) hampa” (Ruth 1:20-21).

Jelas sekali, bahwa Elohim menolak Naomi, sama seperti Elohim menolak Israel dan bangsa Yahudi (baik di jaman Naomi, dan kemudian pada jaman raja Yehuda terakhir). Ya, itu fakta-fakta yang jelas, namun tidak benar; Fakta tidak selalu ada benar, namun Kebenaran adalah selalu fakta yang benar. Elohim YAHWEH menghukum Naomi dan bangsa Yahudi bukan untuk kehancuran, tetapi untuk perkara mulia, bahkan yang lebih mulia. Kesucian YAHWEH mengharuskan mereka hidup kudus dan benar, dan kasih-Nya memastikan mereka untuk hidup dalam kemulian yang kekal, itulah Kebenaran dan Fakta yang komplit, seperti kita akan lihat di bawah.

“Fakta tidak selalu ada benar, namun Kebenaran adalah selalu fakta yang benar – Joseph Hendry

Ruth, menurut tradisi Israel, sebelum ia menikahi Kilyon, ia sejak kecil telah terpilih untuk layak jadi korban bakaran bagi dewa Kamos. Keajaiban terjadi, di hari pengorbanan, tiba-tiba kulit tubuhnya nampak ada penyakit, ia gagal jadi korban bakaran. Namun setelah gadis lain terpilih, kulitnya segera kembali normal. Bagaimanapun Ruth mengabdikan dirinya di kuil Kamos, sampai ia bertemu pemuda Yahudi tersebut yang kemudian jadi suaminya. Ruth melihat semua penderitaan Naomi, namun Ruth memilih ikut dalam penderitaan Naomi dan suaminya sebab ia telah menemukan Elohim yang benar, bahkan sampai kedua putra Naomi meninggal. Film The Story of Ruth

Naomi mendengar masa kelaparan sudah habis, ia memutuskan pulang. Diperjalanan menuju Bethlehem-Efrata, ia menganjurkan kedua mantu yang masih muda ini[7] untuk balik ke Moab: menikah lagi dan dan melayani dewa-dewa bangsanya.

Orpa dengan air mata berlinang dan ciuman memberi selamat tinggal kepada Naomi. Namun Ruth mampu melihat jauh ke depan apa yang sesungguhnya Elohim YAHWEH akan perbuat pada bangsa Israel dan pada dirinya. Ruth berkeras untuk bersama Naomi

“Janganlah mendesak aku untuk meninggalkanmu, … ke mana engkau pergi, aku akan pergi, dan ke mana engkau tinggal, aku akan tinggal. Bangsamu adalah bangsaku, dan Elohimmu, Elohimku.” (Ruth 1:17)

Singkat cerita, Naomi dan Ruth tiba di kota asal Naomi. Boas, keponakan Naomi menikahi Ruth. Dari mereka lahirlah Obed (”Melayani”). Dan Obed melahirkan Isai, yang adalah ayah dari Daud, raja Israel. Dari garis keturunan raja Daud, lahirlah Yeshua Messiah,[8] Juruselamat bangsa Israel dan semua bangsa di dunia.

Ruth telah membuat pilihan sebagaimana Abraham telah buat[9] – meninggalkan keluarga mereka, bangsa mereka, tanah kelahiran mereka. Keduanya telah kehilangan indentitas hidup mereka untuk menemukan hidup yang berkelimpahan dan bernilai tinggi.

Pada awal abad 20, siapa yang menyangka bahwa bangsa Israel akan kembali memiliki negara di tanah mereka sendiri. Gereja-gereja bukan Yahudi secara umum, sebelum Israel merdeka (1948), menganut ajaran Dispensasional Theology atau Replacement Theology, suatu ajaran yang salah dan anti-Yahudi, yang mengajar bahwa Gereja telah menggantikan posisi bangsa Yahudi, jadi secara otomatis Gereja adalah Israel rohani, dan orang-orang Yahudi yang percaya Yeshua Messiah di jaman ”Gereja mula-mula” telah menjadi bagian dari Gereja dan kehilangan kebangsaannya.

Namun janji Elohim untuk membawa mereka ”ketanah milik mereka sendiri” sekarang telah terwujud, tidak sedikit Gereja yang telah bertobat dan meninggalkan ajaran sesat tersebut. Malangnya masih banyak orang Kristen bukan Yahudi masih tetap menganut ajaran yang salah tersebut. Gereja bukan hanya tidak perduli dengan bangsa Israel: hak mereka untuk hidup dan bernegara, lebih dari itu bahkan tetap memusuhi bangsa Israel – yang Elohim YAHWEH sendiri menyebut bangsa ini sebagai ”biji mata-Ku,”[10] ”istri-Ku,”[11] ”umat kesayangan-Nya.”[12]

Ruth penyembah berhala dan ”bangsa kafir” adalah gambaran dari Gereja bukan Yahudi, teladan hidupnya telah dipakai Elohim YAHWEH untuk menjadi bagian dari lahirnya raja-raja Israel dan bahkan Raja segala raja, yakni Yeshua Messiah.

Orang-orang Kristen bukan Yahudi perlu memperhatikan nasib bangsa Yahudi, perlu melihat mereka sebagaimana YAHWEH di dalam Firman-Nya melihat-Nya – sebagaimana Ruth telah melihat dan memperlakukan mertua Yahudinya Naomi dengan benar: “Janganlah mendesak aku untuk meninggalkanmu, … ke mana engkau pergi, aku akan pergi, dan ke mana engkau tinggal, aku akan tinggal. Bangsamu adalah bangsaku, dan Elohimmu, Elohimku.” (Ruth 1:17)

Rasul Paulus mengingatkan Gereja Barat di Roma bagaimana mereka harus bersikap terhadap bangsa Israel: ”Adakah mereka (telah) tersandung dan harus jatuh? Sekali-kali tidak! Tetapi oleh pelangaran mereka (bangsa Israel), keselamatan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain (the gentiles), supaya membuat mereka cemburu. Sebab jika pelanggaran mereka berarti kekayaan bagi dunia (the world), dan kekurangan mereka kekayaan bagi bangsa-bangsa lain (the gentiles), terlebih-lebih lagi kesempurnaan mereka.” Ia melanjutkan: ”Janganlah kamu bermegah, .. Janganlah kamu sombong, tetapi takutlah! Sebab kalau Allah (Elohim) tidak menyangkan cabang-canbang asli [Israel], Ia juga tidak akan menyangkan kamu.”

Dan Rasul mengingatkan Gereja ini akan nubuatan Firman tentang masa depan Israel: ”Mereka akan dicangkokkan kembali, … seluruh Israel akan diselamatkan, seperti ada tertulis[13]: ”Dari Sion (Zion) akan datang Penebus, Ia akan menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub (Israel). Dan inilah perjanjian-Ku denga mereka, apabila Aku menghapuskan dosa mereka.” (Roma 11:11-27, ITB). Lalu rasul menyimpulkan: ”Mengenai Injil mereka adalah seteru Elohim oleh karena kamu, tetapi mengenai pilihan, mereka adalah kekasih Elohim oleh karena nenek moyang. Sebab Elohim tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya.” (ayat 28-29)

Elohim YAHWEH sesuai firman-Nya, Dia akan memulihkan kerajaan Israel, kita kenal sebagai ”Kerajaan 1000 tahun Damai” ketika Yeshua putra Daud kembali ke bumi menjadi Raja segala raja. Gereja-gereja bukan-Yahudi terpanggil untuk mengenapi rencana kekal Elohim, seperti Ruth telah terpanggil dan menggenapi panggilannya. Kota dimana Ruth tinggal di Israel adalah kota dimana Yeshua Juruselamat dunia telah lahir.

Jika kita tidak bersedia menuruti Firman-Nya, bagaimanapun juga Dia tetap akan melakukan rencana-Nya, oleh karenanya baiklah kita menjadi seperti Ruth dan bukan Gereja yang ditegur oleh rasul Paulus; memilih berkat dan bukan kutuk, menyenangkan YAHWEH dan bukan menyedihkan-Nya.

Daniel Gruber memberi saran praktis bagaimana kita (Gereja) bisa menjadi berkat bagi keturunan Abraham ini:[14]

  • Gereja hendaknya berdoa untuk keselamatan Israel dan perdamaian kota Yerusalem (1 Samuel 12:23, Mazmur 122:6-7)
  • Gereja, di dalam kasih, hendaknya membawa Injil Perjanjian Baru (the New Covenent, bukan “the New Testement“) kepada domba-domba yang terhilang dari Rumah Israel  (Roma 1:16)
  • Gereja hendaknya memberi bantuan untuk kebutuhan Israel, khususnya bagi pengikut Yeshua
  • Gereja hendaknya menyatakan kepada dunia bahwa Elohim Pencipta dan Pemilik semesta alam telah memberikan tanah Israel kepada bangsa Yahudi (Mazmur 24:1, Ulangan 32:8-9)

Buku bagus untuk dibaca yang berkaitan dengan topik ini:

  • The Chuch and the Jews, the Biblical Relationship by Dan Gruber
  • God’s Promise and the Future of Israel by Don Finto
  • Alinging with the Spirit of Prophecy by Miri Moriah

Footnote:

  1. Lihat Kitab Esther pasal 1-3 dan 1 Samuel 15 dan Keluaran 15
  2. Matius 1
  3. Baca Yehezkiel 14:13-23, perhatikan ayat 21; Yeremia 21:5-7
  4. Saat ini, di banyak negara masyarakat sedang menuju pada gaya hidup “berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri” sekalipun ada presiden dan raja, sebab hak pribadi telah menjadi lebih tinggi dari kepentingan bersama dan tanggug jawab, dikenal sebagai “Jaman Anarki.”
  5. 2 Petrus 2:7
  6. Kejadian 19:37
  7. Ruth 4:12
  8. Silsilah Yeshua bisa dilihat pada Matius pasal 1
  9. Kejadian 12 dan seterusnya
  10. Ulangan. 32:9-10
  11. Hosea 2:18-20
  12. Ul. 7:6 & 14:2 & 1 Petrus 2:9
  13. Mengutip nubuatan nabi Yesaya di Yesaya 59:20-21 dan Yeremia 31:31-34
  14. Daneil Gruber, The Chuch and the Jews, the Biblical Relationship

“Terlahir untuk memuliakan Adonai Yeshua Messiah dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa” – Joseph Hendry

Advertisements